
KAKINEWS.ID, BANJARMASIN — Persoalan limbah dan sampah kota di Banjarmasin kembali menjadi perhatian publik. Kali ini, isu lingkungan tersebut disuarakan melalui pertunjukan seni bertajuk “Musik Sampah” yang digelar oleh komunitas Borneo Ecomusicology Lab.
Pertunjukan tersebut memanfaatkan berbagai barang bekas seperti botol plastik, kaleng, ember rusak hingga pipa PVC yang diolah menjadi alat musik. Melalui kolaborasi seni dan lingkungan, para seniman mencoba menyampaikan pesan tentang pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Taman Kelayan, Kelurahan Kelayan Barat itu menghadirkan pertunjukan musik eksperimental sekaligus edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya limbah perkotaan apabila tidak ditangani dengan baik.
Penerima manfaat program, Muh Arqam, mengatakan kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk respons kreatif terhadap kondisi lingkungan di Kota Banjarmasin.
“Tujuan kami bukan hanya menampilkan pertunjukan musik, tetapi juga menyampaikan pesan ekologis melalui medium seni,” ujarnya.

Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk membangun kesadaran masyarakat dengan cara yang lebih dekat dan mudah diterima berbagai kalangan, terutama generasi muda.
Selain pertunjukan musik, kegiatan juga diisi dengan workshop pembuatan alat musik dari barang bekas. Peserta diajak memahami konsep daur ulang kreatif atau creative recycling sebagai langkah sederhana mengurangi volume sampah rumah tangga.
Persoalan sampah sendiri masih menjadi tantangan besar di Kota Banjarmasin. Produksi sampah yang terus meningkat membuat berbagai pihak mulai mendorong gerakan pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk melalui pendekatan seni dan edukasi masyarakat.






Tinggalkan Balasan