
KAKINEWS.ID, JAKARTA — Rupiah menghadapi tekanan berlapis. Harga minyak mentah Brent yang melambung hingga US$108,49 per barel, kekhawatiran inflasi Amerika Serikat, serta lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury menjadi kombinasi yang berpotensi kembali menyeret rupiah ke zona pelemahan.
Mengacu pada laporan Bloomberg Technoz, Jumat (11/9/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) masih bertahan di sekitar Rp17.616 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang Garuda masih cukup kuat menjelang perdagangan pasar spot.
Tekanan tidak hanya datang dari dalam negeri. Mayoritas mata uang Asia juga bergerak terbatas bahkan cenderung melemah. Won Korea Selatan, dolar Singapura, dan yuan offshore memang menguat, tetapi tipis. Sebaliknya, baht Thailand mengalami pelemahan paling tajam, disusul ringgit Malaysia dan yen Jepang.
Kenaikan harga minyak menjadi salah satu ancaman utama. Brent yang menembus US$108 per barel berpotensi memperbesar tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan biaya impor sekaligus memperlebar tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan valuta asing.
Di saat yang sama, pasar global kembali dihantui risiko inflasi AS.

Data Producer Price Index (PPI) AS tercatat naik 0,4% pada Agustus. Kenaikan bulanan tersebut menjadi yang terbesar sejak Mei dan memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan harga di AS belum sepenuhnya mereda.
Pasar kini menanti data Consumer Price Index (CPI) AS yang akan menjadi ujian penting bagi arah sentimen risiko global. Jika inflasi kembali menunjukkan tekanan, ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve dapat berubah dan memicu penguatan dolar AS.
Situasi tersebut menjadi pukulan tambahan bagi rupiah. Sentimen hawkish dari bank sentral AS biasanya membuat aset dolar lebih menarik, sementara mata uang negara berkembang menghadapi risiko tekanan jual.
Tekanan juga terlihat di pasar obligasi. Aksi jual US Treasury merembet ke pasar surat utang negara-negara Asia. Yield Treasury AS tenor 10 tahun bahkan mendekati level 5% setelah melonjak 18 basis poin sepanjang pekan ini.
Kenaikan yield tersebut membuat aset berdenominasi dolar AS semakin menarik dan berpotensi mendorong aliran dana keluar dari pasar negara berkembang.
Dengan demikian, rupiah kini menghadapi sedikitnya tiga sumber tekanan sekaligus: harga minyak yang kembali menggila, risiko inflasi AS, dan kenaikan yield Treasury yang memperkuat daya tarik dolar AS.
Jika tekanan tersebut berlanjut, ruang penguatan rupiah berpotensi semakin sempit. Pasar akan mencermati perkembangan harga energi dan data inflasi AS sebagai penentu utama arah rupiah dalam waktu dekat.







