MARTAPURA, KBK.News – Berbulan-bulan tanpa hujan membuat krisis air bersih semakin dirasakan warga RT 03, Desa Babirik, Kecamatan Beruntung Baru, Kabupaten Banjar. Di tengah kemarau yang berkepanjangan, warga mengaku terpaksa menggunakan air sungai yang asin untuk mandi hingga berwudu, sementara air minum harus dibeli dengan menunggu pasokan yang datang hanya sekali atau dua kali dalam sepekan, Selasa (22/9/2026).

Seorang warga menceritakan, selama kemarau belum pernah ada pembagian air bersih gratis yang menjangkau wilayah mereka. Kondisi itu membuat warga harus bertahan dengan segala keterbatasan yang ada.

Air sungai di belakang permukiman menjadi satu-satunya pilihan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, air itu baru bisa digunakan saat pasang, meski rasanya tetap asin.

Untuk memenuhi kebutuhan air minum, warga harus membeli air yang diantar menggunakan mobil pikap. Pasokan tersebut tidak datang setiap hari, melainkan hanya sekitar satu hingga dua kali dalam seminggu. Satu teng air dijual seharga Rp3.500.

“Mau bagaimana lagi, mau tak mau kami harus bersabar dengan keadaan ini. Semoga ada bantuan dari pemerintah,” ungkap warga.

Menanggapi keluhan tersebut, Pembakal Desa Babirik, Jamsi, memastikan pemerintah desa akan menindaklanjuti aspirasi warga terkait krisis air bersih di RT 03.

Ia mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan instansi terkait agar persoalan kesulitan air bersih yang dialami warga dapat segera mendapat perhatian dan penanganan.

Keluhan warga RT 03 Babirik menjadi gambaran beratnya dampak kemarau di wilayah pesisir Kecamatan Beruntung Baru, di mana belum tersedianya jaringan air perpipaan membuat masyarakat semakin rentan ketika sumber air alami berubah menjadi asin dan pasokan air bersih terbatas.