
Bedah Buku Memperingati Hari Sumpah Pemuda
SURABAYA, KAKINEWS.ID – Memperingati Hari Sumpah Pemuda tahun 2026, digelar bedah buku dan diskusi yang dikemas ala Cangkrukan.
Mengurai kajian sejarah, ekonomi, politik, dan gerakan demokrasi di Indonesia.
Mereka, utamanya para narasumber yang adalah aktivis 89, era pergerakan mengkritisi pemerintahan kala itu.
Semangat perjuangan bergerak bersama mengkritisi pemerintah. Juga fakta dan kenyataan yang pernah mereka alami, penderitaan. Mereka berbicara situasi negara, pemerintah, konflik politik dan perjuangan demokrasi di akhir kekusaan rezim Orde Baru.

Sarat berbagai kejadian dialami, disebutkan pascaperistiwa Kudatuli (kerusuhan dua puluh tujuh Juli) yang meletus tahun 1996 di Jakarta.
Di Surabaya, mereka menyebut perjuangan dan perlawanannya sarat risiko, mereka menyebut dengan Nyanyian Bawah Tanah.
Acara itu digelar di aula gedung Bakesbangpol Jawa Timur di Surabaya, Rabu 28 Oktober 2026.
Mereka yang tampil ialah Sugeng Puji Leksoni, selaku Dekan FISIP Universitas Wijaya Kusuma Surabaya bertindak sebagai penanggap. Lalu Tino Rahardian, Kepala MP2MD ITB Visi Nusantara Bogor, juga Trio Marpaung dan Syani aktivis kampus 98 dari Surabaya yang keduanya juga penulis buku berjudul Nyanyian Bawah Tanah.
Hadir sebagai tuan rumah Agus mewakili Kepala Bakesbangpol Jawa Timur Eddy Supriyanto, serta undangan peserta diskusi berbagai elemen mahasiswa dan elemen pemuda pemudi.
“Nyanyian Bawah Tanah adalah saksi hidup perjuangan aktivis SMID/PRD menghadapi represif Orde Baru,” kata Trio Marpaung.
Trio menceritakan, pascaperistiwa Kudatuli, aktivis di Surabaya dikejar, ditangkap dan diperiksa oleh aparat keamanan. Mereka juga menerima siksaan.
“Orang yang memeriksa saya mengambil kursi, plastik di kaki kursi diambil, kemudian tangan saya diinjak di kaki kursi itu,” ujar Trio, menceritakan salah satu kisah yang dia alami.
Trio mencoba melihat fakta hari ini, apa yang tengah terjadi dan apa yang dilakukan pemuda, atau mahasiswa saat ini. Itu, kemudian berlanjut dengan sesi tanya jawab.
Syani, didepan peserta kemudian mengurai betapa kuatnya jiwa, semangat dan pikiran mereka kala itu berjuang untuk mewujudkan perubahan.
Dia mengaku gembira perjuangan panjang di eranya kini membuahkan hasil, meski tidak semua dirasakan berubah.
“Minimal, saat ini saya tidak lagi mendengar atau mengalami bullian, seperti yang dulu pernah saya rasakan. Dengan sebutan hei, Cina hei, sipit, itu tidak lagi,” ungkapnya.
Dia yang dulu saat menjadi aktivis mahasiwi di zaman pemerintahan Orde Baru juga tak luput dari tindakan represif aparat pemerintah.
Dia mengaku ditangkap, disekap, dan mengalami penyiksaan ketika dalam interograsi.
“Ngeri lah, saat itu, saya ditempeleng, hidung disentil, telinga disentil dan lainnya.”
Diakhir, buku tulisan Trio dan Syani mendapat sambutan utamanya peserta untuk bisa membaca langsung buku tersebut.
“Penulisnya adalah pelaku sejarah yang memang turun langsung di era sembilan delapan itu,” kata seorang peserta seusai acara.***








