
Kakinews.id, Jakarta-Kebutuhan tenaga kerja Jepang yang terus meningkat mendorong Indonesia memperkuat pelatihan vokasi bagi calon pekerja yang akan bekerja di Negeri Sakura. Hal ini menjadi perhatian Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir, saat meninjau Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bandung dan PT UPTY Global Network, Rabu (26/8/2026).
Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kesiapan Indonesia dalam mencetak sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri Jepang, khususnya di bidang otomotif.
Di BBPVP Bandung, Dubes Kartini melihat fasilitas dan proses pelatihan vokasi yang disiapkan bagi calon tenaga kerja Indonesia ke Jepang. Ia menilai, kesiapan pekerja tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknis.
“Dengan kebutuhan tenaga kerja di Jepang yang terus meningkat, kita perlu memastikan SDM Indonesia tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan bahasa Jepang, pemahaman budaya kerja, serta kesiapan untuk bekerja sesuai dengan standar industri Jepang,” ujar Kartini.
Salah satu bidang yang menjadi perhatian adalah otomotif. BBPVP Bandung memiliki program pelatihan yang berorientasi pada kebutuhan industri Jepang, termasuk melalui kerja sama dengan Ehime Toyota Motor Corporation.

Program tersebut memadukan kompetensi teknis otomotif, kemampuan bahasa Jepang, serta kesiapan kerja sesuai standar industri Jepang. Kunjungan Dubes Kartini kemudian dilanjutkan ke PT UPTY Global Network. Perusahaan tersebut berperan dalam menyiapkan dan menempatkan tenaga kerja Indonesia ke Jepang, khususnya di sektor otomotif.
Direktur Utama PT UPTY Global Network, Edi Mustofa, mengatakan pihaknya juga memberikan perhatian terhadap aspek pelindungan pekerja. Salah satunya melalui penyediaan asuransi komprehensif bagi peserta yang ditempatkan di Jepang.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Kementerian Ketenagakerjaan, Darmawansyah, mengatakan Kemnaker memiliki 21 Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas dengan bidang keahlian masing-masing.
Bidang pelatihan tersebut antara lain otomotif, manufaktur, dan caregiving. Kemnaker juga terus mendorong pelatihan yang responsif terhadap kebutuhan industri Jepang.
Menurut Darmawansyah, pemerintah memberikan akses pelatihan kepada masyarakat tanpa membebankan biaya kepada peserta. Pembiayaan didukung melalui subsidi pemerintah dan kontribusi perusahaan Jepang.
Dubes Kartini mengapresiasi sinergi pemerintah dan sektor swasta dalam membangun ekosistem penyiapan SDM yang semakin terarah pada kebutuhan industri Jepang.
Ia mengatakan pekerja Indonesia selama ini dikenal adaptif dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja di Jepang.
“Kita ingin tenaga kerja Indonesia tidak hanya berangkat dan bekerja, tetapi juga membawa pulang pengetahuan dan pengalaman. Kita harus terus adaptif terhadap perkembangan global, tanpa melupakan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” pesan Kartini kepada para peserta pelatihan.
Ia juga mendorong peserta memanfaatkan pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama bekerja di Jepang untuk mengembangkan karier dan berkontribusi meningkatkan kualitas SDM Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.
Kunjungan tersebut sekaligus menegaskan komitmen KBRI Tokyo untuk memperkuat kerja sama ketenagakerjaan Indonesia-Jepang, terutama dalam peningkatan kualitas SDM, kesesuaian kompetensi dengan kebutuhan industri, serta pelindungan pekerja Indonesia.





