Ilustrasi – Uang (Foto: Dok Kakinews.id/Antara)

Jakarta, Kakinews.id – Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia menyatakan inflasi Indonesia sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 2,92 persen masih berada dalam koridor sasaran nasional. Pemerintah menilai capaian tersebut mencerminkan keberhasilan kebijakan pengendalian harga dan pasokan, khususnya untuk menjaga daya beli masyarakat.

Namun di balik klaim stabilitas tersebut, tekanan inflasi pada komponen pangan justru menunjukkan lonjakan signifikan. Inflasi harga bergejolak atau volatile food tercatat menembus 6,21 persen secara tahunan. Kenaikan tajam ini terutama dipicu melonjaknya harga aneka cabai, beras, dan ikan segar yang menjadi kebutuhan pokok rumah tangga.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, mengakui bahwa tekanan inflasi pada akhir tahun tidak terlepas dari faktor cuaca dan distribusi. “Inflasi Desember 2025 dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan. Gangguan cuaca serta hambatan distribusi mendorong inflasi volatile food mencapai 6,21 persen secara tahunan,” ujarnya, Selasa (6/1/2025).

Selain pangan, inflasi inti juga mengalami peningkatan menjadi 2,38 persen (yoy). Kenaikan ini terutama disumbang oleh lonjakan harga emas perhiasan. Sementara itu, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered price tercatat naik 1,93 persen, dipicu kenaikan harga BBM nonsubsidi serta tarif transportasi selama momentum Natal dan Tahun Baru.

Meski tekanan harga meningkat di sejumlah sektor, Febrio menegaskan perekonomian nasional hingga akhir 2025 masih menunjukkan ketahanan. Menurutnya, inflasi yang relatif terkendali, aktivitas manufaktur yang tetap ekspansif, serta neraca perdagangan yang konsisten mencatat surplus menjadi sinyal positif bagi fondasi ekonomi. “Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat pada 2026,” tegasnya.

Pemerintah pun memastikan kebijakan fiskal ke depan akan difokuskan untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat momentum pertumbuhan. Arah kebijakan diformulasikan untuk mendukung program pembangunan nasional agar pertumbuhan ekonomi berjalan inklusif dan berkelanjutan.

Pandangan senada disampaikan Bank Indonesia. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menilai inflasi masih terjaga dalam target 2,5 persen dengan deviasi plus minus 1 persen. Ia menekankan konsistensi kebijakan moneter serta kuatnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah pusat maupun daerah.

“Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 persen ±1 persen pada 2026 dan 2027,” kata Ramdan.