Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei ( Foto Istimewa)

 

KAKI.News, JAKARTA – Operasi yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, disebut merupakan hasil pelacakan intelijen berbulan-bulan oleh Central Intelligence Agency (CIA) yang kemudian dibagikan kepada Israel sebelum terjadinya serangan rudal di Teheran, Sabtu (1/3/2026).

Dilansir CNBC.Indonesia , sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut menyebutkan, CIA memantau pergerakan Khamenei dalam beberapa bulan terakhir, termasuk informasi terkait pertemuan pejabat senior Iran di sebuah kompleks di Teheran yang diperkirakan turut dihadiri Khamenei.

Informasi intelijen itu kemudian dibagikan kepada pihak Israel dan disebut mempercepat waktu pelaksanaan serangan. “Wawasan itu, yang disampaikan kepada rekan-rekan Israel, mempercepat jadwal serangan,” ujar sumber yang dikutip media internasional.

Khamenei, 86 tahun, dilaporkan tewas akibat serangan rudal yang menghantam kompleks kediamannya di Teheran.

Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematian tersebut pada Minggu pagi, beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut Khamenei tewas dalam operasi gabungan AS-Israel.

Namun demikian, pernyataan berbeda muncul dari sejumlah pejabat Amerika Serikat.

Anggota DPR AS dari Partai Republik, Mike Turner, mengaku telah berbicara dengan Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang menegaskan bahwa Washington tidak secara langsung menargetkan Khamenei maupun kepemimpinan Iran.

Sementara itu, Ketua Komite Intelijen Senat AS Tom Cotton menyatakan pihaknya tidak akan membeberkan detail intelijen yang digunakan dalam operasi tersebut, tetapi menegaskan kemampuan pengumpulan intelijen Amerika Serikat sangat kuat.

“Lokasi dan niat pemimpin tertinggi serta para ayatollah di Iran merupakan prioritas tertinggi komunitas intelijen kami,” ujarnya.

Khamenei menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran sejak 1989, menggantikan Ruhollah Khomeini, tokoh utama Revolusi Islam 1979.

Selama hampir empat dekade, ia mengonsolidasikan kekuasaan politik dan militer sekaligus menjadi otoritas keagamaan tertinggi di Iran.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai sosok pengganti Khamenei. Diplomat utama Iran menyatakan para ulama dapat memilih pemimpin tertinggi baru dalam beberapa hari ke depan.

Di sisi lain, Trump menyebut terdapat “beberapa kandidat yang baik”, meski tidak merinci lebih lanjut.

Perkembangan situasi di Iran pasca kematian Khamenei diperkirakan akan memengaruhi dinamika politik domestik maupun hubungan kawasan, terutama terkait ketegangan antara Iran dan Israel yang dalam beberapa waktu terakhir terus meningkat.