
Hidup autentik di era agama sebagai warisan milik bersama (2)
Oleh Denny JA*
JAKARTA, KAKINEWS.ID – Tanggal 9 Oktober 2012, seorang gadis berusia lima belas tahun duduk di dalam bus sekolah di Lembah Swat, Pakistan. Ia sedang dalam perjalanan pulang.
Hari itu seharusnya berjalan seperti biasanya. Namun dua lelaki bersenjata menghentikan kendaraan tersebut. Salah seorang mencari gadis yang dianggap terlalu berani memperjuangkan pendidikan.
Namanya Malala Yousafzai. Lelaki itu menembaknya. Peluru menghantam kepala Malala. Dalam sekejap, perjalanan pulang dari sekolah berubah menjadi perjalanan antara kehidupan dan kematian.

Apa kesalahan gadis itu? Ia ingin anak-anak perempuan memperoleh pendidikan. Ia menolak menerima bahwa tempat kelahirannya harus menentukan batas masa depan seorang manusia.
Malala tidak pernah memilih tumbuh di lembah yang jatuh ke bawah bayang-bayang Taliban. Ia tidak memilih zaman ketika sekolah anak perempuan ditutup paksa.
Namun ada sesuatu yang masih dapat ia perjuangkan: bagaimana dirinya menjawab keadaan yang tidak pernah dipilihnya, sekalipun jawaban itu mempertaruhkan nyawanya sendiri.
Malala selamat. Ia melanjutkan perjuangannya, mendirikan Malala Fund bersama ayahnya pada 2013, dan menerima Nobel Perdamaian pada 2014, ketika baru berusia tujuh belas tahun.
Kisahnya menyimpan pertanyaan yang jauh melampaui Pakistan. Jika kita tidak dapat memilih dunia tempat dilahirkan, sejauh mana kita dapat memilih menjadi manusia seperti apa?
Kita tidak memilih awal kehidupan. Tetapi kita dapat belajar memilih arah, nilai, dan makna yang hendak kita berikan kepada kehidupan itu.
- Mengapa kita perlu memilih hidup secara autentik?
Søren Kierkegaard, filsuf Denmark abad ke-19, mengingatkan manusia tentang tragedi yang sering tidak disadari: seseorang dapat menjalani seluruh hidupnya, tetapi gagal menjadi dirinya sendiri.
Dalam The Sickness Unto Death (1849), Kierkegaard membahas keputusasaan sebagai persoalan mendasar hubungan manusia dengan dirinya sendiri dan, dalam pemikirannya, dengan Tuhan.
Manusia dapat memiliki kekayaan, jabatan, keluarga, dan penghormatan masyarakat, tetapi tetap merasa asing terhadap dirinya sendiri. Ia berhasil di mata dunia, namun kehilangan hubungan dengan batinnya.
Bayangkan seseorang menghabiskan puluhan tahun mengejar jabatan tertinggi. Ia bekerja tanpa henti, menunda kebahagiaan, dan mengorbankan waktu bersama orang-orang yang paling dicintainya.
Akhirnya jabatan itu berhasil diraih. Karangan bunga memenuhi ruangan. Orang-orang memberi selamat. Namanya disebut dengan penghormatan, bahkan oleh mereka yang dahulu meragukannya.
Namun malam itu, ketika semua tamu telah pulang, ia duduk sendirian. Di antara bunga yang mulai layu, muncul pertanyaan yang selama ini dihindarinya.
Apakah ini sungguh kehidupan yang saya inginkan?
Ia tiba-tiba menyadari bahwa selama puluhan tahun dirinya berlari mengikuti peta yang digambar orang lain. Bahkan garis akhirnya tidak pernah ia tentukan sendiri.
Betapa tragis jika seseorang memenangkan perlombaan, tetapi baru di garis akhir menyadari bahwa perlombaan itu bukan miliknya.
Dalam esai pertama, kita telah merenungkan kehidupan yang tidak kita pilih. Orang tua, tanah kelahiran, bahasa, agama keluarga, bahkan zaman, semuanya hadir sebelum kita mampu bertanya.
Tetapi manusia bukan sekadar penerima warisan. Ia mampu merenungkan, menguji, menerima kembali, atau mengubah arah kehidupan berdasarkan kesadaran dan pertimbangan moralnya.
Inilah hidup autentik: keberanian menjalani kehidupan berdasarkan nilai yang secara sadar kita yakini, dengan kejujuran terhadap alasan pilihan dan tanggung jawab atas akibatnya.
Otentisitas bukan kewajiban menjadi berbeda, meninggalkan agama keluarga, atau menolak tradisi. Warisan yang dipilih kembali dengan kesadaran justru dapat menjadi keyakinan yang lebih mendalam.
Seorang petani, guru, ibu rumah tangga, pengusaha, atau pemuka agama dapat hidup autentik. Ukurannya bukan kemasyhuran, melainkan keselarasan antara nilai, pilihan, dan tindakan.
- Tiga penjara yang sering tidak kita sadari
Ada penjara yang memiliki dinding dan jeruji. Namun ada pula penjara yang tidak terlihat. Kita dapat tinggal di dalamnya bertahun-tahun sambil merasa bebas.
Penjara pertama adalah kebutuhan akan pengakuan sosial.
Kita hidup di zaman ketika keberhasilan semakin sering diukur melalui kekayaan, jabatan, penghargaan, jumlah pengikut, dan perhatian yang diberikan orang lain.
Media sosial memperlihatkan kehidupan yang telah disunting. Kita membandingkan kebahagiaan orang lain yang dipilih untuk ditampilkan dengan kehidupan sendiri yang kita kenal bersama seluruh kekurangannya.
Perlahan kita berhenti bertanya apakah sesuatu sungguh bernilai. Kita hanya ingin mengetahui apakah ia membuat orang lain terkesan. Tepuk tangan menggantikan suara hati.
Penjara kedua adalah kenyamanan teknologi yang melemahkan kemandirian berpikir.
Kecerdasan buatan dapat membantu manusia menemukan pengetahuan, bekerja lebih produktif, dan memecahkan persoalan rumit. Namun kemudahan itu juga menghadirkan tantangan baru.
Algoritma mempelajari kebiasaan kita. Sistem rekomendasi membentuk apa yang terlihat, sementara kecerdasan buatan dapat menyajikan jawaban bahkan sebelum kita sungguh memahami pertanyaannya.
Persoalannya bukan teknologi selalu mengendalikan manusia. Bahayanya muncul ketika manusia menyerahkan kemampuan menimbang dan memilih kepada alat yang semula diciptakan untuk membantunya.
Penjara ketiga adalah identitas yang tidak pernah diperiksa.
Keluarga, bangsa, agama, dan kebudayaan memberikan akar kepada manusia. Namun akar dapat menjadi belenggu apabila seseorang dilarang mempertanyakan tanah tempat akar itu tumbuh.
Seseorang dapat menjalankan agama keluarganya melalui pemahaman mendalam. Orang lain mungkin menjalankannya terutama karena takut kehilangan penerimaan sosial. Dari luar, keduanya tampak serupa.
Sebaliknya, meninggalkan agama keluarga tidak otomatis menandakan kebebasan. Seseorang dapat meninggalkan tradisi lama hanya untuk menjadi tawanan kelompok baru yang sama-sama melarang pertanyaan.
Manusia tidak menjadi bebas hanya karena mengganti penjaganya. Kebebasan dimulai ketika ia berani memeriksa alasan di balik keyakinan dan pilihannya sendiri.
- Autentisitas bukan sekadar mengikuti keinginan
Ada semboyan populer yang terdengar membebaskan: jadilah dirimu sendiri. Tetapi siapakah diri sendiri itu? Apakah setiap keinginan benar-benar lahir dari kesadaran yang bebas?
Bukankah banyak keinginan dibentuk oleh keluarga, pendidikan, iklan, persaingan sosial, dan ketakutan yang bahkan belum pernah kita akui kepada diri sendiri?
Bayangkan dua anak bercita-cita menjadi ahli hukum. Anak pertama ingin membela mereka yang diperlakukan tidak adil. Anak kedua ingin memenuhi harapan besar keluarganya.
Keduanya dapat menjadi ahli hukum yang baik. Namun masing-masing perlu memahami alasan pilihannya sebelum keputusan itu menentukan perjalanan panjang kehidupan mereka.
Mungkin setelah merenung, anak kedua justru menemukan kecintaan sejati kepada keadilan. Ia tetap menjalani harapan keluarganya, tetapi kini dengan kesadaran yang berbeda.
Tidak selalu diperlukan pemberontakan atau perubahan pekerjaan. Kadang yang berubah hanyalah hubungan batin seseorang dengan kehidupan yang selama ini telah dijalaninya.
Autentisitas juga tidak berarti mengikuti setiap dorongan hati. Keinginan membalas penghinaan atau mengkhianati kepercayaan mungkin terasa kuat, tetapi kekuatan hasrat bukan ukuran kebenaran.
Kebebasan memerlukan tanggung jawab. Ketulusan memerlukan kemampuan mengoreksi diri. Tanpa keduanya, apa yang disebut keaslian diri dapat berubah menjadi pembenaran atas kesewenang-wenangan.
Hidup autentik membutuhkan dua keberanian sekaligus: mengatakan, inilah yang saya yakini, dan mengakui dengan rendah hati, mungkin ada sesuatu yang belum saya pahami.
- Dua pemikir: Makna hidup dan kebebasan identitas
Dua buku membantu memperdalam pemahaman tentang otentisitas. Yang pertama bertanya mengapa kehidupan bermakna. Yang kedua menjelaskan hubungan kebebasan individu dengan identitas sosial.
Buku pertama: Meaning in Life and Why It Matters, Susan Wolf, Princeton University Press, 2010.
Wolf berpendapat bahwa kehidupan bermakna muncul ketika keterlibatan pribadi bertemu dengan sesuatu yang memang layak dihargai. Kesenangan subjektif saja belum mencukupi.
Seseorang dapat menikmati aktivitas yang miskin nilai. Sebaliknya, pekerjaan yang sangat bermanfaat dapat terasa hampa apabila dijalani tanpa keterlibatan batin.
Gagasan Wolf mengingatkan bahwa hidup autentik tidak cukup menjawab apakah pilihan itu sungguh milik kita. Kita juga perlu bertanya apakah pilihan tersebut layak diperjuangkan.
Buku kedua: The Ethics of Identity, Kwame Anthony Appiah, Princeton University Press, 2005.
Appiah menjelaskan bahwa identitas manusia terbentuk melalui hubungan antara kebebasan individu dan kehidupan bersama. Tidak seorang pun membangun dirinya dari ruang kosong.
Agama, keluarga, bangsa, dan kebudayaan menyediakan bahasa serta kemungkinan hidup. Namun identitas sosial tidak seharusnya meniadakan ruang individu untuk memilih dan berkembang.
Kebebasan tidak berarti menghancurkan semua ikatan. Kita dapat menghormati warisan sambil memeriksa tuntutannya, mempertahankan yang berharga, dan memperbaiki yang membatasi martabat.
Dua buku ini saling melengkapi. Wolf menanyakan nilai dari pilihan kita. Appiah mengingatkan bahwa pilihan tersebut berlangsung di tengah hubungan sosial yang membentuk diri.
Kita tidak perlu kehilangan akar untuk bertumbuh. Tetapi kita perlu memastikan akar itu memberi kehidupan, bukan menghalangi kita menerima cahaya.
- Harga sebuah pilihan
Kebebasan selalu memiliki harga. Kadang harga termahal bukan kehilangan pekerjaan atau kedudukan, melainkan mengecewakan orang-orang yang paling kita cintai.
Bayangkan seorang perempuan muda yang keluarganya telah berkorban agar ia memperoleh pendidikan terbaik. Orang tuanya berharap ia mendapat pekerjaan dengan penghasilan tinggi.
Namun perempuan itu menemukan panggilan berbeda. Ia ingin mengabdikan dirinya bagi pendidikan anak-anak miskin, sekalipun jalan tersebut menjanjikan kehidupan yang lebih sederhana.
Ia mencintai keluarganya, tetapi juga ingin setia kepada panggilan batinnya. Dua nilai yang sama-sama baik kini menuntut keputusan yang tidak mudah.
Apa yang harus dilakukan? Ia dapat berdialog, mencari jalan tengah, dan menimbang tanggung jawab keuangan. Autentisitas tidak mengharuskannya memutus hubungan dengan keluarga.
Namun ia juga tidak dapat selamanya menyerahkan pertanyaan tentang hidupnya kepada orang lain, betapapun besar cinta dan pengorbanan mereka.
Di sinilah pergulatan paling sulit muncul. Kadang kita harus memilih bukan antara kebaikan dan keburukan, melainkan antara dua kebaikan yang tidak sepenuhnya dapat dipertahankan bersama.
Tetapi tidak semua manusia memiliki kebebasan yang sama. Kemiskinan, penyakit, diskriminasi, dan tanggung jawab keluarga dapat mempersempit pilihan secara nyata.
Karena itu, hidup autentik tidak boleh menjadi alasan menghakimi mereka yang terpaksa bertahan dalam keadaan sulit. Keberanian memiliki banyak wajah.
Kadang keberanian berarti meninggalkan jalan lama. Kadang justru berarti tetap bertahan, tanpa membiarkan penderitaan merampas martabat dan kejujuran diri.
- Pengalaman personal: Perjalanan panjang mencari makna hidup
Sejak mahasiswa, saya dihantui sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata membutuhkan puluhan tahun untuk direnungkan: untuk apa sesungguhnya kita hidup?
Apakah sekadar lahir, belajar, bekerja, membangun keluarga, mengejar keberhasilan, lalu menghilang dari ingatan dunia? Mengapa manusia masih merasa hampa setelah meraih segalanya?
Pertanyaan itu membawa saya menjelajahi agama, filsafat, spiritualitas, hingga ilmu pengetahuan modern. Saya mencari jawaban yang mencerahkan pikiran sekaligus menghangatkan jiwa.
Saya mendalami enam tradisi besar: Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Taoisme, dan Khonghucu. Saya juga menyusuri pemikiran Jiddu Krishnamurti, Anthony de Mello, Swami Vivekananda, Dada J. P. Vaswani, Osho, sampai Ki Ageng Suryomentaram.
Mereka tidak selalu sependapat. Namun dari perbedaan itu saya belajar bahwa kebijaksanaan tidak tinggal dalam satu rumah, melainkan dapat ditemukan melalui banyak jendela.
Pencarian saya kemudian memasuki neurosains. Saya menemukan bahwa kesenangan tidak selalu sama dengan kebahagiaan, dan kebahagiaan belum tentu menghadirkan makna.
Sains membantu menjelaskan mekanisme pengalaman bahagia. Namun pertanyaan mengenai tujuan hidup, nilai, dan tanggung jawab moral tidak selesai hanya melalui penjelasan biologis.
Kebahagiaan membuat hidup terasa menyenangkan. Makna memberi alasan mengapa kita tetap ingin menjalaninya, bahkan ketika kebahagiaan sedang menjauh.
Setelah perjalanan panjang itu, saya sampai pada pemahaman yang mengubah cara saya memandang agama: agama sebagai warisan milik bersama umat manusia.
Dari kesadaran itu, saya ikut mendirikan Esoterika, sebuah forum spiritual yang membuka ruang perjumpaan lintas tradisi untuk mencari kebijaksanaan di tengah perbedaan.
Saya juga mengembangkan Power of Giving, sebuah ikhtiar menempatkan tindakan memberi sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna dan bermanfaat.
Sebab spiritualitas tidak cukup berhenti pada doa, meditasi, atau perdebatan teologis. Apa gunanya memahami begitu banyak jalan menuju Tuhan, jika hati tetap tertutup terhadap penderitaan manusia yang berdiri di hadapan kita?
Kini, ketika menoleh ke masa mahasiswa, saya menyadari bahwa pencarian makna tidak berakhir pada satu jawaban yang sempurna. Ia justru mengubah pertanyaan hidup saya.
Dahulu saya bertanya: Apa makna hidup saya? Kini pertanyaannya berubah: Apa makna kehadiran saya bagi kehidupan orang lain?
Apakah kehadiran saya mengurangi penderitaan? Apakah ia memperluas kasih sayang, membuka kesempatan, atau meninggalkan sedikit lebih banyak kebaikan daripada yang saya terima?
Barangkali di sanalah pencarian panjang itu menemukan rumahnya. Bukan pada kepastian memiliki semua jawaban, melainkan pada kesediaan menghidupi nilai yang diyakini.
- Lima langkah menjalani hidup autentik
Bagaimana gagasan tersebut dapat diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari?
Saya mengusulkan lima latihan sederhana, bukan sebagai rumus kesempurnaan, melainkan sebagai jalan memperdalam kesadaran.
Pertama, periksa siapa yang menentukan impian kita.
Tuliskan tiga hal yang paling ingin dicapai dalam kehidupan. Kemudian tanyakan apakah semuanya sungguh dianggap berharga, atau sekadar cara memperoleh pengakuan orang lain.
Tidak setiap impian warisan perlu dibuang. Namun impian yang tidak pernah diperiksa dapat menjadikan manusia pelaksana kehidupan yang dirancang oleh orang lain.
Kedua, bedakan nilai dari keinginan sesaat.
Keinginan dapat berubah mengikuti suasana hati. Nilai memberikan arah ketika kehidupan menjadi sulit, terutama saat keuntungan pribadi bertabrakan dengan kejujuran dan tanggung jawab.
Autentisitas bukan sekadar mengetahui apa yang kita inginkan. Ia juga berarti memahami prinsip apa yang tidak bersedia kita korbankan, betapapun besar godaannya.
Ketiga, periksa kembali hubungan kita dengan tradisi.
Kita dapat mempertahankan keyakinan karena menemukan kebenaran di dalamnya, menafsirkan kembali sebagian ajarannya, atau mengubah keyakinan setelah pertimbangan yang sungguh-sungguh.
Tidak satu pun pilihan itu otomatis lebih luhur. Yang menentukan adalah kejujuran proses pencarian serta penghormatan terhadap martabat mereka yang memilih berbeda.
Keempat, wujudkan nilai melalui tindakan kecil.
Jika mencintai keluarga, sediakan waktu mendengarkan. Jika menghargai keadilan, jangan mengambil keuntungan dari ketidakadilan. Jika menjunjung kasih, hadirlah ketika seseorang membutuhkan pertolongan.
Nilai yang hanya diucapkan dapat menjadi hiasan identitas. Nilai yang dijalankan setiap hari perlahan berubah menjadi watak, dan watak membentuk jejak kehidupan.
Kelima, berikan diri kita hak untuk memperbaiki pilihan.
Pengetahuan bertambah dan pengalaman mengoreksi keyakinan. Mengubah pendapat setelah menemukan alasan yang lebih kuat bukan kelemahan, melainkan tanda kerendahan hati intelektual.
Kita tidak harus setia kepada setiap pendapat masa lalu. Kita perlu setia kepada kejujuran yang memungkinkan kita mengakui kesalahan dan memperbaikinya.
- Apakah hidup autentik akan melahirkan individualisme?
Ada keberatan yang patut direnungkan. Jika setiap orang didorong memilih jalan hidup sendiri, apakah keluarga kehilangan wibawa dan masyarakat berubah menjadi kumpulan individu yang egoistis?
Kekhawatiran itu penting karena manusia tidak hidup sendirian. Kasih keluarga, kesetiaan sahabat, dan pengorbanan antargenerasi merupakan bagian mendasar dari kehidupan yang bermakna.
Charles Taylor, dalam The Ethics of Authenticity (1991), menjawab keberatan serupa. Otentisitas yang dipahami dengan benar tidak berpusat pada diri sendiri. Identitas terbentuk melalui dialog dengan orang lain dan dengan nilai yang melampaui keinginan pribadi.
Karena itu, hidup autentik yang matang tidak meminta manusia memutus semua ikatan. Ia justru mengajak kita menghayati hubungan tersebut dengan kesadaran dan tanggung jawab.
Anak yang merawat orang tuanya karena memahami nilai kasih tidak kehilangan kebebasan. Ia sedang menggunakan kebebasannya untuk memenuhi tanggung jawab yang diyakini berharga.
Kebebasan juga bukan relativisme moral. Ketulusan meyakini sesuatu tidak otomatis menjadikannya benar. Keyakinan tetap perlu diperiksa melalui alasan, bukti, dan pertimbangan kemanusiaan.
Mereka yang menembak Malala mungkin meyakini tindakannya benar. Namun keyakinan tidak memberikan hak untuk merampas keselamatan dan kebebasan orang lain.
Hidup autentik bukan kebebasan berbuat apa saja. Ia adalah kebebasan yang bersedia bertanggung jawab atas pengaruh tindakan kita terhadap kehidupan sesama.
- Agama sebagai warisan milik bersama
Kini kita sampai pada benang merah rangkaian esai ini. Jika agama keluarga merupakan bagian dari kehidupan yang diwariskan, bagaimana iman dapat menjadi sesuatu yang sungguh dihayati?
Seorang Muslim dapat semakin mendalami Islam melalui pembacaan, perenungan, dan pengalaman spiritual. Seorang Kristen dapat semakin menghayati imannya melalui pemeriksaan dan keterlibatan dalam kehidupan sesama.
Hal serupa berlaku bagi pemeluk Hindu, Buddha, Khonghucu, serta tradisi spiritual lainnya.
Manusia yang tidak beragama pun dapat memeriksa nilai yang mendasari kehidupannya.
Namun ada kemungkinan lain yang patut dibuka: agama tetap menjadi rumah iman seseorang, sekaligus menjadi sumber kebijaksanaan yang dapat dipelajari oleh seluruh umat manusia.
Seorang Muslim dapat mempelajari welas asih Buddhisme tanpa meninggalkan tauhid. Seorang Kristen dapat memahami disiplin batin Hindu tanpa menerima seluruh pandangan metafisikanya.
Belajar tidak berarti menyetujui. Menghormati tidak berarti menyamakan. Agama-agama memiliki klaim kebenaran, sejarah, ritual, dan pandangan teologis yang tidak selalu dapat dipersatukan, dan perbedaan itu perlu dihormati secara jujur.
Di sinilah saya membayangkan kematangan baru dalam kehidupan beragama. Keyakinan yang mendalam tidak harus menjadikan perbedaan sebagai ancaman terhadap identitas diri.
Agama dapat menjadi rumah tempat seseorang menetap. Namun rumah yang kukuh tidak perlu menutup seluruh jendelanya. Cahaya dari luar tidak selalu merobohkan rumah.
Kadang cahaya itu justru membantu penghuninya melihat lebih jelas keindahan yang telah lama berada di dalam, tetapi sebelumnya tidak pernah sungguh diperhatikan.
Dengan demikian, hidup autentik dan keterbukaan spiritual saling memperkaya. Kita dapat berakar pada tradisi sendiri, sekaligus membuka hati terhadap kebijaksanaan yang ditemukan orang lain.
- Sebelum waktu kita habis
Ada alasan mengapa seluruh perenungan ini tidak boleh ditunda selamanya. Kita tidak memiliki waktu yang tidak terbatas, meskipun sering hidup seakan-akan memilikinya.
Suatu hari nanti, kita berjanji akan mengunjungi orang tua. Suatu hari nanti, kita akan meminta maaf. Suatu hari nanti, kita akan mulai menjalani kehidupan yang dicintai.
Namun masa depan tidak pernah menandatangani perjanjian bahwa ia pasti datang. Ada percakapan yang tertunda sampai orang yang ingin diajak berbicara telah tiada.
Ada orang yang bekerja seumur hidup untuk mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya, tetapi terlambat menyadari bahwa mereka lebih merindukan kehadiran daripada warisan.
Barangkali kita terlalu sering mengukur kehidupan melalui sesuatu yang dapat ditambahkan: lebih banyak harta, lebih tinggi jabatan, lebih luas pengaruh, dan lebih besar penghargaan.
Padahal kedalaman hidup kadang justru tumbuh melalui sesuatu yang berani dilepaskan: kesombongan untuk meminta maaf, kesibukan untuk mencintai, atau keinginan menang untuk mendengarkan.
Bayangkan jika hari ini merupakan salah satu hari terakhir kehidupan kita. Siapa yang ingin kita peluk? Kepada siapa kita perlu meminta maaf? Kebaikan apakah yang terus ditunda, seolah waktu selalu tersedia untuk menebusnya?
Hidup autentik tidak mengharuskan keputusan dramatis. Kadang ia dimulai melalui percakapan yang jujur, sebuah kunjungan, atau kebaikan yang selama ini tertunda. Di situlah kebajikan memperoleh tubuh melalui tindakan.
Penutup: Dari hidup yang diterima menuju hidup yang dipersembahkan
Kembali kita mengenang Malala. Pada usia lima belas tahun, ia menghadapi peluru karena memperjuangkan pendidikan, sesuatu yang seharusnya menjadi hak setiap anak.
Ia tidak memilih tempat kelahirannya. Ia tidak memilih ancaman yang mengepung kehidupannya. Tetapi ia memperjuangkan jawaban yang ingin diberikannya terhadap keadaan tersebut.
Kita mungkin tidak menghadapi ancaman serupa. Namun setiap manusia mempunyai pergulatannya sendiri, termasuk pertarungan sunyi antara keinginan diterima dan keberanian menjadi diri sendiri.
Kini saya melihat perjalanan otentisitas melalui tiga tahapan yang saling berhubungan, seperti perjalanan manusia dari kelahiran menuju kedewasaan batin.
Pertama, kehidupan yang tidak kita pilih.
Kita menerima dunia beserta keluarga, tradisi, bahasa, agama, dan sejarahnya. Semuanya membentuk diri sebelum kita memiliki kesempatan untuk menentukan arah kehidupan.
Kedua, kehidupan yang kita sadari.
Kita mulai bertanya, memeriksa, dan memilih. Kita belajar membedakan warisan yang patut dijaga, ketakutan yang perlu diatasi, dan nilai yang layak diperjuangkan.
Ketiga, kehidupan yang kita persembahkan bagi sesama.
Kita menyadari bahwa menjadi diri sendiri bukanlah tujuan terakhir. Kebebasan memperoleh kedalaman ketika ia digunakan untuk mencintai, menolong, dan memperluas kemungkinan hidup orang lain.
Pada akhirnya, ukuran hidup bukan semata berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan berapa banyak kebaikan yang tetap bekerja setelah kita pergi.
Kita tidak memilih dari mana kehidupan bermula. Tetapi kita dapat memilih nilai yang menuntunnya, dan kepada siapa kehidupan itu akhirnya kita persembahkan.
Sebab kehidupan yang paling autentik bukan hanya kehidupan yang akhirnya menjadi milik kita sendiri. Ia juga menjadi hadiah bagi orang lain.
Namun satu pertanyaan masih menunggu. Jika kebijaksanaan dapat dipelajari lintas iman, di mana batas antara belajar dan mengambil alih?
Bagaimana kita belajar dari rumah iman orang lain tanpa kehilangan rumah sendiri, dan tanpa merampas rumah mereka?***
*Denny JA ialah penulis dan kolumnis
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi









