KAKINEWS.ID, Jakarta – Aktivitas fisik secara teratur dinilai dapat membantu meningkatkan kesehatan mental, fungsi kognitif, dan kualitas hidup pasien dengan gangguan kejiwaan. Sejumlah penelitian menunjukkan olahraga berpotensi mengurangi gejala depresi, kecemasan, serta tekanan psikologis.

Temuan tersebut disampaikan dalam sebuah artikel ilmiah Viewpoint yang diterbitkan di jurnal Brain Health. Kajian yang dipublikasikan pada 2026 itu merangkum hasil uji klinis acak, meta-analisis, dan studi kohort mengenai manfaat aktivitas fisik bagi kesehatan otak.

Artikel tersebut ditulis Carl Zhou dan Nicholas Fabiano dari Departemen Psikiatri University of Ottawa, serta Stanley Wong dari University of Toronto.

Dalam kajian tersebut, para peneliti menilai olahraga seharusnya tidak hanya dipandang sebagai anjuran gaya hidup sehat, tetapi juga menjadi bagian dari pendekatan penanganan pasien dengan gangguan kejiwaan.

“Kami masih cenderung memperlakukan olahraga sebagai saran gaya hidup umum. Bukti yang kami tinjau mendukung sesuatu yang lebih terarah, yakni resep aktivitas fisik yang mencakup jenis kegiatan, frekuensi, intensitas, durasi, pertimbangan keselamatan, dan rencana tindak lanjut, sebagaimana yang kami lakukan terhadap obat-obatan,” kata Carl Zhou, Kamis (5/11/2026).

Penelitian tersebut menunjukkan aktivitas fisik dapat memberikan manfaat terhadap suasana hati dan fungsi otak. Meta-analisis terhadap berbagai uji klinis menemukan aktivitas seperti berjalan kaki, jogging, yoga, dan latihan kekuatan dapat membantu mengurangi gejala depresi.

Manfaat aktivitas fisik juga berpotensi dirasakan meskipun seseorang belum mencapai target olahraga yang direkomendasikan. Analisis dosis-respons menunjukkan aktivitas fisik sekitar 75 menit per minggu dengan intensitas sedang sudah dapat memberikan manfaat terhadap gejala depresi.

Perhatian khusus juga diberikan kepada pasien skizofrenia dan gangguan mental berat lainnya. Kelompok ini cenderung memiliki tingkat aktivitas fisik rendah serta risiko penyakit kardiometabolik dan kematian dini yang lebih tinggi.

Berdasarkan sejumlah meta-analisis, olahraga aerobik berpotensi meningkatkan fungsi kognitif secara keseluruhan pada pasien skizofrenia, termasuk memori kerja, perhatian, dan kemampuan kognisi sosial.

Stanley Wong mengatakan olahraga berpotensi memberikan manfaat secara bersamaan terhadap gejala kejiwaan, kemampuan kognitif, dan kesehatan fisik pasien skizofrenia.

“Pada skizofrenia, olahraga dapat bekerja terhadap gejala kejiwaan, kognisi, dan kesehatan fisik secara bersamaan, pada kelompok pasien yang memiliki kebutuhan besar dan belum terpenuhi dalam ketiga aspek tersebut,” ujar Wong.

Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa bukti mengenai peningkatan fungsi kognitif pada pasien skizofrenia masih berasal dari sejumlah penelitian berskala terbatas. Karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta lebih besar.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150 hingga 300 menit per minggu, atau aktivitas intensitas tinggi selama 75 hingga 150 menit per minggu. Rekomendasi tersebut juga mencakup latihan penguatan otot setidaknya dua hari dalam seminggu.

Namun, peneliti menyarankan aktivitas fisik dimulai secara bertahap, terutama bagi pasien yang mengalami depresi dan kesulitan mempertahankan motivasi.

“Langkah awal tidak harus terlihat mengesankan. Langkah itu harus memungkinkan untuk dilakukan,” kata Nicholas Fabiano.

Ia menjelaskan keberhasilan kecil yang dilakukan secara berulang dapat membangun keyakinan diri dan kebiasaan berolahraga dalam jangka panjang.

Para peneliti juga menekankan pentingnya akses terhadap fasilitas olahraga dan program aktivitas fisik di masyarakat. Dukungan transportasi, program olahraga yang terjangkau, serta kerja sama dengan pusat kebugaran komunitas dinilai dapat membantu pasien menjalankan rekomendasi tersebut.

Dengan demikian, aktivitas fisik diharapkan dapat menjadi bagian yang lebih terarah dalam pendekatan perawatan kesehatan mental, dengan tetap memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing pasien.