BEI (Foto: Dok Kakinews.id/Ist)

Kakinews.id – Berita IHSG kemarin benar-benar menohok pasar modal Indonesia, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,88% ke level 7.922,73 pada perdagangan Senin (2/2/2026) — termasuk pelemahan paling tajam dalam beberapa waktu terakhir, dengan sektor komoditas yang menjadi tulang punggung pasar jatuh tajam dan tekanan jual meluas di hampir seluruh saham besar.

Sentimen makin suram karena kekhawatiran global terhadap pasar modal Indonesia setelah diskusi BEI-MSCI, di mana MSCI sempat memperingatkan kemungkinan downgrading pasar jika reformasi transparansi tak segera terlihat. Reuters juga melaporkan gelombang jual asing besar-besaran dan kekhawatiran pelaku pasar terhadap arah kebijakan fiskal dan politik yang memperburuk sentimen investor.

Untuk prediksi hari ini, Selasa (3/2/2026), konsensus analis masih hati-hati dan cenderung defensif. Beberapa media berita pasar menilai IHSG tetap berpotensi melemah atau bergerak sideways dengan bias turun, namun ada ruang teknikal untuk rebound jika tekanan jual mereda. Dukungan teknikal pada level sekitar 7.780–7.680 disebut sebagai area kunci support. Di sisi lain, level resist berada di kisaran sekitar 8.000–8.145 tergantung sentimen pasar global dan domestik.

Analis yang berbeda juga menekankan bahwa IHSG masih rawan tekanan lanjutan dan mungkin akan menguji level support yang lebih rendah jika pergerakan jual berlanjut, sehingga investor semestinya waspada.

Untuk saham-saham yang layak dicermati hari ini, rekomendasi analis cukup beragam tergantung strategi (trading jangka pendek vs swing/strategic buy):

— Rekomendasi dari satu riset menyoroti saham AADI, MYOR, ICBP, INDF, JSMR sebagai pilihan untuk diperhatikan.
— Ada juga yang menyebut saham UNVR, PTBA, JSMR, AADI, SMGR, PGAS sebagai top picks berdasarkan sentimen fundamental teknikal.
— Beberapa analis lain memberi ide trading termasuk sektor telekomunikasi dan keuangan seperti EXCL, GOTO, TINS, INDY, BBNI, WIIM untuk pergerakan jangka pendek dengan memperhatikan level support/resistance teknikal.

Secara umum, investor yang lebih berhati-hati cenderung menunggu stabilisasi teknikal atau rebound jelas di atas level psikologis seperti 8.000 sebelum masuk besar, sementara pelaku trading aktif mungkin bisa mencari peluang “buy on weakness” di saham-saham likuid yang sudah terdiskon tajam.

Secara makro, risiko pasar juga masih tinggi karena faktor global dan domestik seperti arus modal keluar, isu transparansi pasar, serta inflasi/ekonomi yang sedang berubah-ubah, sehingga sikap risk management menjadi kunci dalam memutuskan strategi perdagangan hari ini.