Jakarta, Kakinews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih bergerak liar pada awal pekan depan.

Mata uang Garuda disebut belum keluar dari tekanan dan berpotensi kembali melemah di tengah ketidakpastian global yang terus membayangi pasar.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah pada awal pekan akan bergerak di kisaran Rp17.220 hingga Rp17.260 per dolar AS. Sementara untuk perdagangan sepekan, rupiah diprediksi berada di rentang Rp17.180 sampai Rp17.400 per dolar AS.

“Pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan tertekan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).

Menurut dia, beban terbesar rupiah masih datang dari sentimen eksternal, terutama memanasnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda mereda.

“Faktor geopolitik masih dominan memengaruhi rupiah, khususnya konflik AS-Iran yang berpotensi berkepanjangan,” katanya.

Situasi memanas setelah beredar kabar negosiator utama Iran dalam perundingan dengan AS mundur dari proses diplomasi. Di saat bersamaan, Presiden AS Donald Trump menegaskan tidak ingin tergesa-gesa mencapai kesepakatan baru dengan Teheran dan tetap bersikap keras terkait program nuklir Iran.

Kondisi tersebut menimbulkan kecemasan pasar terhadap ancaman terganggunya pasokan energi global, terutama dari kawasan Timur Tengah. Kekhawatiran semakin besar karena Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dunia, ikut menjadi sorotan.

Memanasnya konflik mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus level USD100 per barel. Dampaknya, kebutuhan dolar AS dari negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, ikut meningkat tajam.

“Indonesia sebagai net importir minyak membutuhkan lebih banyak dolar AS untuk pembelian energi, dan itu menjadi tekanan tambahan bagi rupiah,” jelas Ibrahim.

Dari dalam negeri, ancaman juga datang dari potensi kenaikan inflasi akibat mahalnya harga energi. Meski begitu, pemerintah memastikan kondisi fiskal masih cukup kuat untuk menahan guncangan. Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp423 triliun disebut siap digunakan sebagai bantalan jika beban subsidi energi meningkat.

Sementara itu, Bank Indonesia terus menggelontorkan langkah stabilisasi melalui intervensi di pasar valuta asing, baik di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun offshore Non-Deliverable Forward (NDF). Otoritas moneter juga memperluas instrumen valas, termasuk transaksi berbasis yuan offshore, demi menjaga kestabilan rupiah.

Sebagai catatan, pada perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah sempat menguat 57 poin ke posisi Rp17.229 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.286. Namun penguatan tipis tersebut dinilai belum cukup kuat untuk membalikkan tren rupiah yang masih rapuh di bawah tekanan global.