
JAKARTA, KAKINEWS.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih mendominasi kejadian bencana di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 13–14 September 2026.
Selain karhutla, BNPB juga melaporkan kejadian kekeringan, banjir, dan tanah longsor di sejumlah daerah. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana selama musim kemarau.
“Masyarakat diimbau mengisi cadangan air saat pasokan masih tersedia, menggunakan air sesuai kebutuhan, memperbaiki keran atau pipa yang bocor, serta menggunakan kembali air bekas yang masih layak,” kata Berton dalam keterangan BNPB, Senin (14/9/2026).
Di Jawa Timur, karhutla di kawasan Gunung Butak, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, masih belum sepenuhnya padam. Kebakaran yang terjadi sejak Jumat (4/9) tersebut telah membakar sekitar 478 hektare lahan.
Pada Minggu (13/9), masih ditemukan empat titik api di wilayah Blitar dan satu titik api di Pujon Kidul. Pemadaman dilakukan tim gabungan melalui operasi darat dan udara.

Karhutla juga masih ditangani di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Kabupaten Probolinggo. Tim gabungan melakukan pemadaman bara api di wilayah Jarak Ijo pada Senin (14/9).
Di Jawa Tengah, kebakaran lahan di Desa Bandungharjo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan, berdampak pada sekitar dua hektare lahan. Sementara di Kabupaten Klaten, karhutla yang terjadi di empat kecamatan membakar sekitar 39,25 hektare lahan.
Karhutla juga terjadi di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan. Di Kabupaten Tojo Una-Una, sekitar 35 hektare lahan terbakar, sedangkan di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, luas lahan terbakar mencapai sekitar 15,5 hektare.
Di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, kebakaran berdampak pada 20 hektare lahan perkebunan, sekitar 30 hektare lahan gambut, dan satu fasilitas pendidikan. Hingga Minggu (13/9), api masih dalam penanganan.
Sementara di Polewali Mandar, Sulawesi Barat, karhutla di kawasan perbukitan Dusun Bajoe, Desa Tonyaman, telah berhasil dipadamkan pada Minggu (13/9). Pemadaman sebelumnya terkendala medan terjal, angin kencang, serta akses lokasi yang harus ditempuh menggunakan perahu dan berjalan kaki.
Kekeringan dan Bencana Hidrometeorologi
BNPB juga mencatat kekeringan masih melanda sejumlah wilayah. Di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, krisis air bersih telah berlangsung sejak 25 Juni 2026 dan berdampak pada 10.764 KK di 22 desa.
Pada Minggu (13/9), distribusi air bersih mencapai 173.000 liter dari BPBD, PMI, BAZNAS, dan Armada PDAM. Bantuan tersebut menjangkau 2.525 KK atau 8.837 jiwa.
Kekeringan juga terjadi di Kabupaten Klaten yang berdampak pada 11 desa di lima kecamatan. BPBD setempat menyalurkan sekitar 45.000 liter air bersih kepada masyarakat terdampak.
Di Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, kekeringan berdampak pada 50 KK atau 158 jiwa. BPBD menyalurkan 4.000 liter air bersih.
Sementara itu, banjir terjadi di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, akibat hujan berintensitas tinggi. Sebanyak 30 warga mengungsi di Gereja HKBP Sipange dan banjir berangsur surut pada malam hari.
Tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Aceh Tengah setelah hujan deras mengguyur wilayah Sumatera bagian utara. Bencana tersebut berdampak pada tujuh kampung di empat kecamatan.
Satu anak berusia sembilan tahun meninggal dunia dan 13 orang lainnya mengalami luka-luka. Dua rumah mengalami kerusakan, sementara sejumlah ruas jalan tertutup material longsor.
Berton mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar di tengah kondisi cuaca panas dan kering.
“Jangan melakukan pembakaran sampah atau membuka lahan dengan cara membakar guna mencegah terjadinya karhutla,” ujarnya.
BNPB juga mengimbau masyarakat mewaspadai potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di Aceh, Kepulauan Riau, dan Lampung berdasarkan peringatan dini BMKG, Senin (14/9).
Masyarakat diminta memantau informasi resmi BNPB, BPBD, dan BMKG serta menyiapkan langkah kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi maupun geologi.







