
JAKARTA, KAKINEWS.ID — Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, rupiah ditutup melemah 0,55 persen atau 98 poin ke level Rp17.916 per dolar AS.
Tekanan tersebut membuat rupiah bergerak mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Untuk perdagangan Jumat, 25 September 2026, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp17.850 hingga Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi ketika sejumlah mata uang kawasan juga tertekan. Namun, pada perdagangan tersebut rupiah tercatat mengalami pelemahan yang cukup dalam, sementara beberapa mata uang Asia seperti ringgit Malaysia, yen Jepang, baht Thailand, dan dolar Singapura justru menguat terhadap dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sejumlah faktor eksternal, mulai dari kenaikan imbal hasil obligasi AS, penguatan dolar AS, hingga lonjakan harga minyak mentah dunia.
Yield US Treasury tenor 10 tahun bahkan mencapai 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Tekanan lainnya datang dari ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak mendorong harga minyak mentah Brent kembali berada di atas US$100 per barel.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh importir menjelang akhir kuartal III 2026 serta arus keluar portofolio dari aset emerging markets.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia menyatakan terus melakukan stabilisasi nilai tukar melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
BI juga mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Secara quarter-to-date, BI menyebut rupiah masih mencatat penguatan 0,46 persen terhadap dolar AS.
Lukman memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih dapat berlanjut pada perdagangan berikutnya apabila tidak terdapat intervensi yang cukup kuat dari Bank Indonesia.








