
KAKINEWS.ID, Jakarta: Penelitian terbaru menunjukkan makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) dapat memicu respons metabolik dan aktivitas otak yang berbeda dibandingkan makanan yang diproses secara minimal, meski memiliki kandungan nutrisi yang hampir sama.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Metabolism pada 5 Oktober 2026 itu melibatkan 57 orang dewasa sehat dengan berat badan normal. Para peneliti membandingkan makanan ultra-proses dan makanan non-ultra-proses yang disesuaikan berdasarkan kalori, karbohidrat, lemak, protein, air, garam, serat, hingga berat makanan.
Hasil penelitian menunjukkan makanan ultra-proses menghasilkan respons insulin yang lebih tinggi. Sementara itu, kadar gula darah pada kedua jenis makanan secara keseluruhan relatif sama, meski pola perubahannya berbeda setelah makan.
“Makanan ultra-proses memicu respons insulin yang jauh lebih tinggi dan gula darah bertahan sedikit lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama,” kata Zach Hutelin, peneliti dari Fralin Biomedical Research Institute di Virginia Tech sekaligus penulis pertama penelitian.
Peneliti juga menemukan perbedaan dalam cara tubuh menggunakan sumber energi. Setelah mengonsumsi makanan ultra-proses, oksidasi karbohidrat lebih rendah dibandingkan makanan yang tidak ultra-proses. Sebaliknya, respons oksidasi lemak lebih tinggi.
Penelitian tersebut juga mengamati aktivitas otak menggunakan pemindaian functional magnetic resonance imaging (fMRI). Perbedaan respons metabolik setelah mengonsumsi makanan ultra-proses berkaitan dengan aktivitas di bagian otak yang berhubungan dengan motivasi, pembelajaran dan sistem penghargaan, termasuk striatum.
Alexandra G. DiFeliceantonio, peneliti yang memimpin studi, mengatakan penelitian dilakukan untuk mengetahui apakah tingkat pemrosesan makanan memiliki pengaruh tersendiri ketika faktor nutrisi dibuat sama.
“Kami terkejut ketika setiap metrik metabolik menunjukkan perbedaan,” ujar DiFeliceantonio.
Para peneliti menilai temuan ini menunjukkan dampak pemrosesan makanan terhadap tubuh dan otak tidak sepenuhnya dapat dijelaskan hanya berdasarkan jumlah kalori, karbohidrat, lemak dan protein.
Meski demikian, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Studi hanya menguji satu jenis pasangan makanan dengan kandungan sekitar 300 kalori dan sebagian besar peserta merupakan orang dewasa muda yang sehat. Peneliti menyebut diperlukan penelitian lebih besar dan jangka panjang untuk mengetahui dampaknya pada kelompok masyarakat yang berbeda.
Temuan ini dapat membantu menjelaskan mengapa konsumsi makanan ultra-proses sebelumnya banyak dikaitkan dengan risiko konsumsi berlebihan dan berbagai masalah kesehatan. Namun, penelitian tersebut belum membuktikan bahwa tingkat pemrosesan makanan secara langsung menyebabkan penyakit terterntu.
makanan ultra-proses, ultra-processed food,






