
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan gempa bumi dengan tingkat dosa, maksiat, atau kesalehan masyarakat di suatu daerah.
Menurut Daryono, anggapan bahwa gempa terjadi karena masyarakat di wilayah terdampak banyak melakukan dosa atau menyekutukan Tuhan sulit dibuktikan secara ilmiah dan berpotensi melukai korban bencana.
“Gempa bukan ukuran dosa sebuah daerah,” kata Daryono.
Ia menjelaskan, secara ilmu kebumian, gempa bumi terjadi akibat proses geologi, terutama aktivitas tektonik. Sejumlah wilayah berada di dekat zona subduksi, sesar aktif, maupun sumber gempa lainnya.
Tegangan di dalam kerak bumi terus terakumulasi akibat pergerakan lempeng. Ketika batuan mengalami patahan atau pergeseran, energi yang tersimpan dilepaskan dan merambat sebagai gelombang seismik yang dirasakan sebagai gempa bumi.

“Daerah yang sering mengalami gempa bukan berarti penduduknya lebih berdosa daripada masyarakat di daerah yang jarang gempa. Mereka tinggal di wilayah dengan kondisi tektonik yang memang lebih aktif dan dekat dengan sumber gempa,” ujarnya.
Daryono menegaskan, gempa bumi juga tidak memilih korban berdasarkan suku, agama, tingkat kesalehan, maupun status sosial.
Ia menilai keimanan dan ilmu pengetahuan tidak perlu dipertentangkan. Peristiwa alam dapat dimaknai sebagai pengingat tentang kebesaran Tuhan dan keterbatasan manusia. Namun, untuk memahami penyebab gempa, tingkat kerawanan wilayah, serta upaya mengurangi dampaknya, diperlukan ilmu pengetahuan.
“Jika kita mengetahui adanya sesar aktif, kita membangun rumah yang lebih tahan gempa. Jika tinggal di kawasan rawan tsunami, kita menyiapkan jalur evakuasi. Jika memahami risikonya, kita mendidik masyarakat agar siap dan tidak panik,” kata Daryono.
Karena itu, ia mengajak masyarakat mengubah cara pandang ketika bencana gempa terjadi. Menurutnya, pertanyaan yang lebih penting bukan mengenai siapa yang dianggap berdosa, melainkan apa yang dapat dipelajari dan diperbaiki untuk mencegah jatuhnya korban lebih banyak.
“Pertanyaan yang lebih bermanfaat bukanlah ‘dosa siapa yang menyebabkan bencana ini?’, melainkan ‘apa yang dapat kita pelajari, siapa yang harus kita bantu, dan apa yang harus kita perbaiki agar korban tidak kembali berulang?'” ujarnya.
Daryono menekankan, bencana seharusnya mendorong masyarakat untuk meningkatkan empati dan kesiapsiagaan, bukan melakukan penghakiman atau membangun prasangka terhadap korban.
“Bencana seharusnya menumbuhkan empati, bukan penghakiman; meningkatkan kesiapsiagaan, bukan prasangka. Iman mengajarkan kepedulian, sementara ilmu membantu kita melakukan ikhtiar untuk menyelamatkan kehidupan,” tuturnya.








