
KAKINEWS.ID, Jakarta – Peneliti di University of Alabama in Huntsville (UAH), Amerika Serikat, mengembangkan kandidat pengobatan untuk melindungi otak dari komplikasi neurologis akibat infeksi alphavirus yang ditularkan nyamuk.
Proyek penelitian selama lima tahun tersebut dipimpin Associate Professor of Chemistry UAH, Dr. Victor Ogungbe. Riset ini mendapat pendanaan sebesar 3,67 juta dolar AS dari National Institutes of Health (NIH).
Penelitian berfokus pada pengembangan senyawa molekul kecil yang dapat menghambat perkembangbiakan alphavirus sekaligus mengevaluasi kemampuannya melindungi blood-brain barrier atau sawar darah otak. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun terapi yang disetujui untuk penggunaan pada manusia terhadap kelompok virus tersebut.
Ogungbe mengatakan timnya menargetkan protein nonstruktural 2 atau nsP2 yang berperan penting dalam proses replikasi virus.
“Proyek ini menawarkan kesempatan untuk memajukan penelitian kami menuju pengembangan klinis pilihan pengobatan yang aman untuk virus yang sangat patogen,” kata Ogungbe, dikutip News Medical.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan senyawa yang sedang dikembangkan mampu menghambat replikasi alphavirus dalam kultur sel serta melindungi tikus dari infeksi.
Dalam proyek terbaru ini, tim peneliti akan meningkatkan efektivitas senyawa tersebut dan menguji kemampuannya menjaga integritas sawar darah otak selama terjadi infeksi. Penelitian juga melibatkan Professor Aarthi Narayanan dari George Mason University.
Sawar darah otak berfungsi mengatur pergerakan zat dari aliran darah menuju otak. Pada infeksi virus yang parah, peradangan dapat merusak fungsi pelindung tersebut dan meningkatkan risiko pembengkakan otak maupun gangguan neurologis lainnya.
Untuk mempelajari proses itu, para peneliti akan menggunakan model organ-on-a-chip yang dapat meniru karakteristik penting jaringan biologis manusia. Teknologi tersebut memungkinkan pengamatan terhadap tingkat permeabilitas sawar darah otak dan perkembangan partikel virus secara lebih terkontrol.
Selain pengembangan pengobatan, riset ini diharapkan memperkuat kesiapsiagaan terhadap ancaman penyakit menular dan mendukung pengembangan langkah penanggulangan terhadap virus berbahaya di masa mendatang.








