JAKARTA, KAKINEWS.ID – Dari tadi malam sampai hari ini, negeri terasa panas. Semua membicaraan Listyo Sigit dan gerombolan jenderalnya. Banyak menunggu kisah selanjutnya.

Ini bukan lagi drama politik biasa. Ini sudah film konspirasi kelas dewa. Hollywood boleh punya Mission Impossible, tetapi Indonesia punya Mission Sadap Presiden. Bedanya, yang dibobol bukan brankas bank, melainkan telepon orang nomor satu di republik ini. Yang seharusnya menjaga pagar malah sibuk mengintip isi rumah. Pagar makan tuan, wak!

Nuan bayangkan, Presiden Prabowo Subianto konon sudah lama mengumpulkan rekaman dan berbagai indikasi, mendadak mengeluarkan jurus kilat pada 1 Oktober 2026.

Suyudi Ario Seto, sebelumnya menjabat di BNN, langsung diangkat menjadi Kapolri menggantikan Listyo Sigit Prabowo.

Listyo digeser ke KSP. Masih dapat kursi, tetapi remote kekuasaan sudah disita.

Begitu Suyudi dilantik, sapu jagat langsung dinyalakan. Ratusan perwira tinggi dan menengah dimutasi. Enam Wakapolda diganti. Kapolda dianggap terlalu dekat dengan lingkaran lama dipindahkan. Para perwira menengah yang dahulu akrab dengan Listyo mendadak sibuk mengepak koper.

Ada dikirim ke Papua, ada ke pelosok, ada pula mendapat jabatan baru dengan nama mentereng, tetapi lokasinya seperti dibuang ke planet lain. Ini mutasi atau operasi pengusiran penghuni lama?

Suyudi seolah membersihkan Mabes Polri menggunakan vacuum cleaner berkekuatan nuklir.

Lalu, 3 November 2026, bom politik meledak!

Listyo Sigit bersama dua Irjen, Ahrie Sonta Nasution dan Eko Hadi Santoso, resmi dijadikan tersangka.

Mereka diduga terlibat penyadapan ilegal terhadap telepon Presiden Prabowo. Bukan sekali dua kali, tetapi disebut berlangsung sejak 2025.

Server sistem intersepsi dimasuki tanpa prosedur, tanpa surat, tanpa laporan resmi. Nomor Presiden, pejabat tinggi, politikus, media, ormas, hingga pengusaha ikut menjadi sasaran.

Waduh! Ini Polri atau perusahaan telekomunikasi siluman?

Kalau kita menguping tetangga saja ketahuan bisa diusir sekampung. Lah, ini telepon Presiden disadap!

Jangan-jangan Prabowo ngobrol dengan Teddy pun direkam.

Prabowo konon sudah mencium aroma busuk sejak lama.

Ia mengumpulkan bukti, mengganti Kapolri, membiarkan Suyudi merapikan rumah, kemudian membuka pintu penangkapan.

Listyo dan dua Irjennya akhirnya ditahan di Rutan Mabes Polri.

Dari jenderal yang dahulu bisa menggerakkan ribuan anggota, sekarang harus menunggu pintu sel dibukakan petugas. Nasib memang seperti roda bajaj. Kadang di atas, kadang masuk lubang.

Tetapi, pertanyaan paling mengerikan bukan mengapa mereka menyadap. Siapa yang menyuruh?

Apakah Listyo bergerak sendiri karena merasa informasi adalah senjata paling mahal?

Ataukah ada dalang lebih tinggi, lebih licin, dan lebih berbahaya?

Jangan-jangan tiga jenderal itu cuma pemain lapangan. Sutradaranya masih duduk di ruangan berpendingin udara, menikmati kopi sambil memantau berita penangkapan.

Siapa penyandang dana?

Siapa penyedia teknologi?

Siapa menerima hasil rekaman?

Apakah ada kepentingan politik untuk mengendus percakapan Presiden, membaca rencana reshuffle, bahkan mengetahui siapa bakal ditendang dari lingkaran kekuasaan?

Jangan sampai tiga orang menjadi tumbal, sedangkan dalang sesungguhnya masih bebas memakai jas, dasi, dan tersenyum di depan kamera.

Kalau penyadapan ini benar terbukti, penangkapan tiga jenderal hanyalah episode pertama.

Episode berikutnya harus membongkar seluruh jaringan sampai ke akar-akarnya.

Jangan-jangan yang paling berbahaya bukan orang tertangkap, melainkan orang sampai sekarang belum pernah dipanggil penyidik.

Cari dalangnya, jangan cuma menangkap pemainnya.

Sebab dalam film konspirasi, aktor bisa masuk penjara, tetapi sutradara masih bisa duduk santai menunggu musim Pilpres 2029.***

*Rosadi Jamani ialah penulis dan kolumnis

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi