
Jakarta, Kakinews – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan pagi ini, seiring melemahnya indeks dolar AS dan meredanya harga minyak mentah dunia. Sentimen global yang lebih kondusif turut menopang pergerakan mata uang di kawasan Asia.
Pada pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,23% ke level Rp17.385 per dolar AS. Penguatan ini ditopang pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,17% ke posisi 98,28. Tak lama kemudian, rupiah kembali melanjutkan penguatannya menjadi Rp17.380 per dolar AS atau naik 0,26% pada pukul 09.03 WIB.
Penguatan rupiah juga dipengaruhi meredanya harga minyak mentah global yang turun di bawah US$110 per barel. Penurunan harga minyak terjadi setelah Amerika Serikat menyatakan operasi ofensif terhadap Iran telah berakhir dan fokus dialihkan pada pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz yang sebagian besar masih tertutup.
Mayoritas mata uang Asia turut bergerak di zona hijau. Won Korea Selatan memimpin penguatan, diikuti baht Thailand, dolar Taiwan, peso Filipina, ringgit Malaysia, dolar Singapura, yen Jepang, yuan China dan offshore, hingga dolar Hong Kong. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang mulai membaik di tengah pelonggaran tekanan harga energi global.
Meski rupiah menguat, tekanan di pasar obligasi masih berlangsung. Aksi jual terjadi terutama pada obligasi tenor menengah dan panjang, mendorong kenaikan imbal hasil antara 0,9 basis poin hingga 5,6 basis poin dengan kisaran yield 6,78%-6,85%. Untuk tenor acuan 10 tahun, imbal hasil naik tipis 0,5 basis poin ke level 6,82%.

Sebaliknya, obligasi tenor pendek 1-2 tahun masih diburu investor. Yield tenor 1 tahun turun 0,2 basis poin ke level 6,35%, sementara tenor 2 tahun turun 3 basis poin menjadi 6,35%.
Di pasar sukuk, minat investor mulai melemah. Lelang sukuk pemerintah mencatat total penawaran masuk sebesar Rp21,2 triliun, turun 36,8% dibandingkan lelang sebelumnya pada 21 April yang mencapai Rp33,55 triliun. Permintaan sukuk tenor sangat pendek di bawah satu tahun juga turun 18,08% menjadi Rp8,36 triliun dari sebelumnya Rp10,2 triliun.
Penurunan permintaan tersebut dipicu kenaikan suku bunga diskonto Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang telah melonjak 130,21 basis poin sejak awal tahun. Investor menilai Bank Indonesia masih berpotensi kembali menaikkan suku bunga dalam lelang SRBI berikutnya demi menjaga stabilitas rupiah.
Mega Capital Sekuritas menilai tekanan terhadap Bank Indonesia untuk menaikkan BI Rate pada kuartal ini semakin besar, terutama setelah sejumlah bank sentral utama dunia seperti Bank of Japan, European Central Bank, dan Bank of England memberi sinyal pengetatan kebijakan moneter mulai Juni mendatang.
“Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, kami tidak menutup kemungkinan adanya kenaikan BI Rate sebesar 25-50 bps,” tulis Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas Lionel Priyadi bersama Research Analyst Nanda Puput Rahmawati.
Lionel memperkirakan rupiah masih berpotensi tertekan ke kisaran Rp17.400 hingga Rp17.500 per dolar AS. Karena itu, Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi intensif di pasar keuangan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.








Tinggalkan Balasan