KAKINEWS.ID, BANJARMASIN — Lapas Kelas IIA Banjarmasin melatih warga binaan pemasyarakatan mengolah limbah organik menjadi pupuk kompos sebagai bagian dari strategi pembinaan berkelanjutan yang mengintegrasikan keterampilan, kepedulian lingkungan, dan produktivitas di dalam lapas.

Kepala Lapas Kelas IIA Banjarmasin, Akhmad Herriansyah, mengatakan kegiatan praktik pembuatan kompos merupakan langkah konkret untuk membekali warga binaan dengan keterampilan aplikatif sekaligus mendukung program pertanian berkelanjutan.

“Warga binaan tidak hanya mendapatkan keterampilan, tetapi juga pola pikir produktif dan peduli lingkungan. Harapannya, ilmu ini bisa mereka terapkan setelah kembali ke masyarakat,” ujarnya, Kamis.

Menurut Herriansyah, pembinaan yang dilakukan tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga membentuk kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan limbah organik menjadi produk bernilai guna.

Sementara itu, Kepala Seksi Kegiatan Kerja, Bagus Paras Etika, menambahkan pelatihan tersebut menjadi bagian penting dalam program kemandirian warga binaan.

“Pemanfaatan limbah organik menjadi kompos memberikan nilai tambah, baik dari sisi pengurangan limbah maupun peningkatan kesuburan tanah untuk mendukung hasil pertanian di dalam lapas,” jelasnya.

Salah satu warga binaan berinisial F mengungkapkan bahan utama pembuatan kompos berasal dari limbah organik sehari-hari seperti sisa dapur dan potongan sayuran, di antaranya terong, labu, kangkung, sawi, timun, nangka, dan selada.

Ia menjelaskan proses pembuatan kompos dimulai dengan mencacah bahan organik hingga halus, kemudian menambahkan air cucian beras dan molase untuk mempercepat proses dekomposisi. Campuran tersebut kemudian didiamkan selama dua hingga tiga bulan di tempat terbuka dengan sirkulasi udara yang baik.

“Kompos yang telah matang ditandai dengan warna lebih gelap, tekstur remah, dan tidak berbau menyengat, sehingga siap dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman di lahan pertanian lapas,” ujarnya.

Melalui program ini, Lapas Kelas IIA Banjarmasin tidak hanya mengurangi volume limbah organik, tetapi juga menciptakan siklus pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan serta memperkuat bekal kemandirian warga binaan saat kembali ke masyarakat.