
KAKINEWS.ID, Jakarta – TNI Angkatan Udara (TNI AU) mengerahkan 11 pesawat angkut dan lima helikopter untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Pengerahan alutsista udara tersebut dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), pemadaman melalui udara (water bombing), patroli udara, pemantauan titik api, hingga distribusi logistik.
Pesawat yang dikerahkan meliputi CASA 212, C-130H Hercules, CN-295, C-130J-30 Super Hercules, dan A400M. Sementara itu, dukungan helikopter antara lain menggunakan H225M Caracal dan NAS-332 Super Puma untuk penanganan karhutla di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Gunung Ciremai, Gunung Lawu, serta Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Bogor.
Berdasarkan laporan Posko Karhutla di Lanud Halim Perdanakusuma, Selasa (27/10/2026), tercatat 164 titik api dengan luas terdampak mencapai 708,95 hektare di Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 88 titik api dengan luas 224,93 hektare telah berhasil dipadamkan. Sementara itu, 76 titik api dengan luas 484,02 hektare masih dalam penanganan.
Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI Ali Gusman, menegaskan komitmen TNI AU dalam mendukung penanganan karhutla melalui pengerahan transportasi udara dan koordinasi lintas instansi.

“Pengerahan kedua pesawat Hercules tersebut merupakan bentuk komitmen TNI AU dalam mendukung penanggulangan karhutla melalui transportasi udara yang cepat, efektif, dan terkoordinasi,” ujar Ali Gusman dalam keterangan resmi TNI AU beberapa waktu lalu.
Untuk mendukung kelancaran operasi, kesiapan peralatan modifikasi cuaca juga diperkuat melalui pemeriksaan, perbaikan, dan pengujian oleh Komando Pemeliharaan Materiel TNI AU (Koharmatau) bersama satuan pemeliharaan terkait dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Pelaksanaan operasi udara menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan waktu pemadaman pada malam hari, cuaca buruk, jarak pandang terbatas akibat asap tebal, hingga berkurangnya ketersediaan sumber air selama musim kemarau.
Selain itu, pelaksanaan OMC bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi kriteria penyemaian. Karena itu, setiap misi dilaksanakan berdasarkan analisis cuaca, kebutuhan operasi, dan pertimbangan keselamatan penerbangan.
Melalui kesiapan alutsista, dukungan personel, pemeliharaan peralatan, serta koordinasi dengan instansi terkait, TNI AU terus mengoptimalkan kemampuan udara untuk membantu mempercepat pemadaman, memperluas jangkauan penanganan, dan mendukung upaya mitigasi karhutla di berbagai wilayah Indonesia.









