
Kakinews, HSS – Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (Pemkab HSS) terus berkomitmen menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif dan berkualitas. Melalui kolaborasi strategis antara Bapperida HSS, Dinas Kesehatan HSS, dan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Pemkab HSS mematangkan rancang bangun inovasi SI GAWI BAIK (Sistem Gerakan Warga Peduli Ibu, Anak, dan Stunting).
Langkah transformatif ini dirancang sebagai solusi penanganan masalah kesehatan lapangan sekaligus didukung oleh payung hukum yang kuat, mulai dari UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023, Perpres Percepatan Penurunan Stunting, hingga regulasi daerah terkait Standar Pelayanan Minimal (SPM).
Jaringan Inovasi KIA & Puskesmas Se-Kabupaten HSS
Dalam menopang program SI GAWI BAIK, seluruh Puskesmas dan jajaran Dinas Kesehatan HSS menghadirkan puluhan inovasi spesifik yang berfokus pada penyelesaian akar masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di wilayah masing-masing:
-
Puskesmas Kaliring: PERI CETING (Peran Dokter Gigi Cegah Stunting) untuk pemeriksaan gigi ibu hamil dan balita.
-
Puskesmas Kandangan: Polisi ASI (Poli Laktasi) untuk pendampingan pemberian ASI eksklusif.
-
Puskesmas Telaga Langsat: SIMPEN BUMIL RESTI (Sistem Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi) berbasis grup digital.
-
Puskesmas Gambah: PRO-HERO (Protein Hewani dalam Edukasi Rupa dan Optimalisasi Visual) dengan media edukasi pangan lokal seperti ikan haruan dan patin.
-
Puskesmas Bayanan: BIDADARI IDAMAN (Bidan siap jemput, dampingi, dan antar pasca-melahirkan).
-
Puskesmas Wasah: SAPA-QR untuk survei kepuasan pasien secara real-time berbasis QR Code.
9 Tahapan Implementasi Terstruktur
Penerapan program SI GAWI BAIK dijalankan secara sistematis melalui sembilan tahapan utama:
-
Identifikasi Masalah: Evaluasi data epidemiologi KIA dan angka stunting secara berkala.
-
Analisis Akar Masalah: Menggunakan pendekatan Fishbone (5M+Environment) dan analisis SWOT.
-
Perancangan Model: Membangun kerangka solusi aktif (active case-finding).
-
Penyusunan SOP: Pembakuan standar operasional dari pendataan hingga rujukan.
-
Penguatan SDM: Pelatihan terpadu bagi nakes, kader posyandu, dan aparatur desa.
-
Pilot Project: Uji coba lapangan pada wilayah dengan tingkat risiko tinggi.
-
Monitoring Dashboard: Pemantauan indikator kesehatan secara real-time dengan indikator zona aman, waspada, hingga bahaya.
-
Evaluasi & Audit: Pelaksanaan Audit Maternal Perinatal (AMP) dan Audit Kasus Stunting triwulanan.
-
Replikasi & Pengembangan: Perluasan cakupan ke seluruh puskesmas didukung regulasi turunan.
Bagaimana pandangan Anda terhadap strategi kolaborasi lintas sektor yang dilakukan Pemkab HSS bersama dunia akademisi ini dalam menekan angka stunting?





