
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Hujan abu vulkanik yang terjadi setelah erupsi gunung api kerap menimbulkan kecemasan masyarakat. Selain mengganggu kualitas udara dan jarak pandang, masyarakat juga sering mempertanyakan ke mana abu akan menyebar dan kapan hujan abu benar-benar berakhir.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa arah dan jarak sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh kekuatan letusan serta arah angin.
Menurutnya, ketika terjadi letusan kuat, partikel abu yang berukuran sangat halus dapat terlempar hingga lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Di lapisan tersebut, angin dapat membawa abu dalam jarak jauh, bahkan mencapai puluhan hingga ratusan kilometer sebelum akhirnya mengendap di permukaan.
Hujan Abu Tidak Bisa Dipastikan Berakhir pada Tanggal Tertentu
Daryono menjelaskan, berakhirnya hujan abu vulkanik tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tanggal atau perkiraan waktu tertentu.

Letusan baru benar-benar berhenti ketika pasokan magma segar dari dalam bumi berkurang atau berhenti dan tekanan di dapur magma kembali stabil.
Selama masih terdapat pasokan magma baru dari kedalaman bumi, aktivitas erupsi dapat berlangsung secara fluktuatif. Kondisinya bisa berubah dari relatif tenang menjadi kembali membesar dan menghasilkan semburan abu vulkanik.
Apa Tanda Pasokan Magma Mulai Berkurang?
Menurut Daryono, terdapat sejumlah perubahan yang dapat diamati melalui sistem pemantauan gunung api ketika suplai magma mulai berkurang.
Beberapa di antaranya adalah berkurangnya gempa dari kedalaman, penurunan aktivitas atau bau gas vulkanik secara signifikan, serta terjadinya deflasi atau penyusutan tubuh gunung.
Perubahan tersebut menjadi bagian dari parameter yang dipantau untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api.
Kapan Hujan Abu Vulkanik Berakhir?
Daryono menegaskan bahwa waktu berakhirnya erupsi maupun hujan abu sulit diprediksi secara pasti hingga hitungan jam, tanggal, atau bulan.
Kondisi tersebut disebabkan proses di dalam bumi sangat kompleks dan berlangsung jauh di bawah permukaan. Hingga kini, teknologi belum mampu mengukur secara persis berapa banyak magma yang masih tersimpan di dalam sistem gunung api.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak hujan abu vulkanik disarankan tetap mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, dan instansi kebencanaan terkait, serta tidak menjadikan perkiraan waktu berakhirnya hujan abu sebagai dasar untuk mengabaikan kondisi keselamatan.
Bisakah Waktu Berhentinya Erupsi Diprediksi?
Daryono menjelaskan, waktu berhentinya erupsi dan hujan abu vulkanik sulit diprediksi secara pasti hingga hitungan jam, tanggal, maupun bulan.
Menurutnya, kondisi tersebut serupa dengan gempa bumi yang hingga kini belum dapat diprediksi secara tepat mengenai waktu, lokasi, dan kekuatannya. Mekanisme kedua fenomena alam tersebut berlangsung di kedalaman bumi sehingga sangat kompleks untuk dipantau secara langsung.
Perut bumi berada puluhan kilometer di bawah permukaan dan merupakan sistem alam yang sangat rumit. Hingga saat ini, belum ada teknologi yang mampu mengukur secara persis berapa banyak sisa magma yang berada di dalam sistem gunung api.
Karena itu, para ahli vulkanologi bukan menebak kapan tepatnya erupsi akan berakhir, melainkan membaca pola perubahan aktivitas gunung api berdasarkan berbagai parameter pemantauan.
Salah satunya dengan mengamati penurunan aktivitas gempa, deflasi atau penyusutan tubuh gunung, serta deformasi permukaan secara terus-menerus. Dari perubahan tersebut, para ahli dapat menilai apakah aktivitas gunung mulai melemah dan bergerak menuju akhir fase letusannya.
Pemantauan secara berkelanjutan menjadi penting untuk menentukan perkembangan status aktivitas gunung api sekaligus memberikan informasi dan rekomendasi keselamatan kepada masyarakat.
Daryono juga menyampaikan apresiasi kepada PVMBG Badan Geologi yang terus melakukan pemantauan dan analisis aktivitas gunung api.
“Apresiasi untuk PVMBG Badan Geologi yang tiada lelah terus bekerja untuk ini.”
Dengan demikian, masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanik diimbau tidak berpatokan pada perkiraan kapan hujan abu akan berhenti. Informasi mengenai perkembangan aktivitas gunung api sebaiknya selalu mengacu pada laporan resmi PVMBG Badan Geologi dan instansi terkait.







