KAKINEWS.ID|KALTENG– Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) beberapa hari ini. Mulai membawa perubahan cukup signifikan terhadap kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kualitas udara akibat kabut asap yang mulai membaik, namun Karhutla tetap harus kita waspadai bersama. 29 Oktober 2026.

Jumlah titik panas menurun tajam, kabut asap di sejumlah kawasan mulai menipis, dan warga perlahan kembali merasakan udara yang lebih segar.

Namun, perbaikan tersebut belum menjadi alasan untuk menyatakan kondisi lingkungan sepenuhnya aman.

Data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi) yang dilaporkan pada 28 Oktober 2026 kemarin, mencatat penurunan deteksi hotspot dari 8.054 titik pada 24 Oktober menjadi 11 titik pada 27 Oktober.

Rangkumanan data dari berbagai sumber yang Kakinews.id sajikan terkait Karhutla di Kalimantan Tengah.

Sebanyak 11 deteksi terakhir itu tersebar di Kabupaten Lamandau, Kotawaringin Barat, dan Kotawaringin Timur.

Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Kalteng.

Meski demikian, jumlah hotspot merupakan deteksi satelit dan tidak selalu identik dengan jumlah kejadian kebakaran yang terverifikasi di lapangan.

Dari sisi kualitas udara, data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi PM2.5 di Palangka Raya mencapai 85,4 mikrogram per meter kubik pada 28 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, dengan kategori tidak sehat.

Sementara itu, laporan pemantauan pada 29 Oktober hari ini, menunjukkan kabut asap mulai menipis setelah hujan selama dua hari.

Perbedaan waktu pengukuran tersebut menegaskan bahwa kualitas udara dapat berubah dari jam ke jam dan perlu terus dipantau.

PM2.5 merupakan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

Karena itu, kondisi langit yang mulai cerah tidak otomatis berarti udara sudah aman untuk semua kelompok masyarakat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan perlu tetap memperhatikan informasi kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan apabila tingkat pencemaran kembali meningkat.

Di sisi penanganan, BPB-PK Provinsi Kalteng melaporkan bahwa luas area karhutla yang ditangani dalam periode 24 jam mencapai 37,94 hektare berdasarkan laporan 27 Oktober.

Sebanyak 16.478 personel gabungan dikerahkan, melibatkan unsur BPBD, Manggala Agni, TNI-Polri, Masyarakat Peduli Api, relawan, dan instansi terkait.

Upaya dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pendinginan lahan, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan mempertimbangkan analisis meteorologi.

BMKG juga memprakirakan potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah.

Untuk periode 30 Oktober hingga 2 November, wilayah yang masuk dalam prakiraan tersebut meliputi Seruyan bagian utara, Kotawaringin Timur, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya.

Hujan berpotensi membantu menekan risiko kebakaran, tetapi perkembangan cuaca dan kondisi lahan tetap harus dipantau karena risiko kebakaran dapat muncul kembali ketika lahan mengering.

Dampak karhutla juga tidak dapat diukur hanya dari jumlah titik panas.

Data pemerintah provinsi yang dipublikasikan pada 28 Oktober kemarin, dengan basis laporan hingga minggu ketiga Oktober, mencatat 7.044 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 1.163 kasus diare.

Sebanyak 223 sekolah di tingkat kabupaten/kota dilaporkan sempat mengalihkan pembelajaran menjadi pembelajaran jarak jauh, sementara 169 lokasi Rumah Oksigen disiagakan untuk membantu warga yang membutuhkan dukungan pernapasan.

Angka tersebut merupakan data kumulatif pada periode pelaporan dan bukan jumlah kasus baru pada 28 Oktober.

Pemerintah Provinsi Kalteng bersama pemerintah kabupaten/kota perlu memastikan bahwa perbaikan kondisi cuaca diikuti pemulihan layanan kesehatan, perlindungan warga, keterbukaan data kualitas udara, serta pencegahan kebakaran berulang.

Informasi kondisi udara hendaknya disampaikan secara berkala dengan mencantumkan lokasi, waktu pengukuran, nilai PM2.5 atau ISPU, dan kategori pencemarannya agar masyarakat memperoleh gambaran yang akurat.

Menurunnya hotspot dan mulai menipisnya kabut asap menjadi perkembangan positif yang patut dicermati.

Namun, keberhasilan penanganan karhutla harus diukur melalui penurunan kebakaran yang berkelanjutan, kualitas udara yang benar-benar membaik, perlindungan kesehatan masyarakat, serta kemampuan seluruh pihak mencegah munculnya titik api baru.

Bagi warga Kalteng, harapan untuk kembali menghirup udara bersih harus disertai langkah nyata dan kewaspadaan sampai kondisi dinyatakan aman berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.