
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia (Foto: Ist)
Kakinews.id – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akhirnya buka suara terkait hasil investigasi Inspektur Jenderal Kementerian ESDM atas insiden kebakaran yang sempat terjadi di proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan pada 2024.
Penjelasan itu disampaikan Bahlil saat melaporkan perkembangan pengoperasian proyek pengembangan kilang tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto. Menurut Bahlil, proyek revitalisasi kilang Balikpapan sarat dinamika dan semestinya bisa diresmikan lebih cepat. Namun, target tersebut tertunda akibat kebakaran yang terjadi pada Mei 2024.
“Proyek RDMP ini, Bapak Presiden, banyak dramanya. Saya harus jujur katakan banyak dramanya. Seharusnya sudah jadi awal Mei 2024. Tetapi waktu itu terbakar. Ada bagian yang dibakar. Saya tidak mengerti apakah dibakar karena terbakar atau dibakar karena ada faktor lain,” ujar Bahlil saat peresmian RDMP Balikpapan, Senin (12/1/2026).
Berdasarkan hasil investigasi Irjen Kementerian ESDM, Bahlil mengungkap adanya dugaan upaya sabotase terhadap proyek strategis tersebut. Ia menilai ada pihak-pihak tertentu yang tidak menginginkan Indonesia mengurangi ketergantungan impor migas.

“Ternyata barang ini, Pak, ada udang di balik batu. Masih ada pihak-pihak yang tidak rela kalau kita mempunyai cadangan dan swasembada energi, agar impor terus, impor terus,” katanya.
Dalam kesempatan terpisah, Bahlil juga menyebut ada kalangan pengusaha yang merasa terusik dengan langkah pemerintah menaikkan lifting minyak sekaligus menekan impor migas. Menurutnya, kebijakan tersebut otomatis mengurangi kebutuhan impor, terutama ketika Kementerian ESDM berencana menghentikan impor solar.
“Pasti pengusaha yang selama ini melakukan impor itu merasa terganggu,” ujar Bahlil, Selasa (30/12/2025).
Tak hanya itu, Bahlil mengaku memiliki ambisi lebih jauh untuk menghentikan impor bensin yang dilakukan operator SPBU swasta, setelah sebelumnya menghentikan impor solar bagi badan usaha hilir migas swasta sejak awal tahun ini.
“Saya bermimpi ke depan, dan nanti akan saya laporkan ke Bapak Presiden, bahwa RON 92, RON 95, sampai RON 98 harus diproduksi di dalam negeri. Ini sejalan dengan peraturan menteri dan perpres sejak 2005 yang memprioritaskan produk dalam negeri,” kata Bahlil saat ditemui awak media di kawasan RDMP Balikpapan.
Ia menjelaskan, beroperasinya RDMP Kilang Balikpapan akan menambah kapasitas produksi bensin sekitar 5,8 juta kiloliter (kl). Dengan tambahan tersebut, produksi bensin nasional diproyeksikan mendekati 20 juta kl, naik dari sebelumnya sekitar 14 juta kl.
Jika dibandingkan dengan konsumsi bensin domestik yang mencapai sekitar 40 juta kl per tahun, maka impor bensin Indonesia masih berkisar 18–19 juta kl. “Dengan tambahan 5,8 juta kl, total produksi dalam negeri hampir 20 juta kl. Jadi sisa impor kita tinggal sekitar 18 sampai 19 juta kl,” tegas Bahlil.
Selain bensin, Bahlil juga menegaskan Kementerian ESDM tidak lagi memberikan kuota impor solar bagi operator SPBU swasta untuk gasoil dengan cetane number (CN) 48. Sementara itu, impor solar berkualitas tinggi dengan CN 51 juga akan dihentikan pada semester II-2026.
“CN 48 sudah sama sekali kita setop impornya. Untuk CN 51, semester dua tahun ini tidak kita impor lagi,” pungkasnya.








Tinggalkan Balasan