
KAKINEWS.ID, JAKARTA – Merokok tidak hanya berkaitan dengan dampak terhadap kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan sosial. Studi besar di Eropa menemukan bahwa orang yang merokok cenderung mengalami tingkat kesepian lebih tinggi dan peningkatan rasa kesepian dari waktu ke waktu.
Temuan tersebut dipresentasikan dalam European Respiratory Society (ERS) Congress 2026 di Barcelona, Spanyol, yang berlangsung 5–9 September 2026.
Penelitian yang dipresentasikan oleh Dr Keir Philip, Clinical Lecturer in Respiratory Medicine dari National Heart and Lung Institute, Imperial College London, menganalisis data lebih dari 50.000 orang di 15 negara Eropa yang mengikuti Survey of Health and Ageing in Europe (SHARE).
Para peneliti mengukur tingkat kesepian peserta menggunakan UCLA Loneliness Scale, yang menilai antara lain perasaan kurang memiliki teman, merasa ditinggalkan, dan merasa terisolasi dari orang lain.
Peserta kemudian dibandingkan berdasarkan status merokok dan kembali dinilai sekitar dua tahun kemudian.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki tingkat kesepian lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak sedang merokok. Perokok juga mengalami peningkatan rasa kesepian yang lebih besar selama periode penelitian, bahkan setelah memperhitungkan faktor demografis dan tingkat kesepian pada awal penelitian.
Rata-rata usia peserta penelitian mencapai 67 tahun. Sekitar 22 persen peserta merupakan perokok pada awal penelitian, sementara hampir setengah peserta memiliki lebih dari dua penyakit kronis.
Dr Keir Philip mengatakan penelitian sebelumnya lebih banyak melihat hubungan bahwa kesepian dapat mendorong seseorang untuk merokok. Namun, penelitian terbaru ini berupaya melihat kemungkinan sebaliknya, yakni apakah kebiasaan merokok dapat meningkatkan kesepian.
Salah satu kemungkinan mekanismenya adalah penyakit akibat merokok yang berkembang secara bertahap dapat mengurangi mobilitas seseorang. Kondisi tersebut pada akhirnya membuat seseorang lebih sulit mengikuti aktivitas sosial.
Selain itu, perubahan norma sosial seperti larangan merokok di tempat umum dan lingkungan bebas asap rokok di rumah juga dinilai dapat mengurangi kesempatan perokok untuk berinteraksi secara sosial.
Peneliti menilai temuan tersebut menantang anggapan bahwa merokok merupakan aktivitas yang bersifat sosial. Studi ini justru menunjukkan adanya hubungan antara merokok dengan isolasi sosial dan kesepian.
Meski demikian, temuan penelitian ini sebaiknya dipahami sebagai hubungan yang ditemukan dalam studi, bukan sebagai bukti tunggal bahwa merokok secara langsung menyebabkan kesepian pada setiap individu.





