
Beras (Foto: Ist)
Jakarta, Kakinews.id – Perum Bulog menegaskan bahwa beras yang akan disalurkan dalam program beras satu harga bukanlah beras premium, melainkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang masuk kategori beras medium. Beras tersebut akan dilepas Bulog dari gudang dengan harga Rp11.000 per kilogram.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa harga beras satu harga akan berlaku seragam di seluruh wilayah Indonesia dengan mengacu pada harga eceran tertinggi (HET) Rp12.500 per kilogram. Dengan skema ini, pedagang eceran memperoleh selisih keuntungan sebesar Rp1.500 per kilogram.
“Beras satu harga dari Sabang sampai Merauke adalah beras SPHP bukan beras premium ya. Itu nanti keluar gudang kami rencanakan [seharga] Rp11.000. Di Sabang, di Jawa, di Kalimantan, di Sulawesi, bahkan sampai Papua. Tapi untuk harga ecerannya tetap mengikuti harga eceran tertinggi yaitu Rp12.500,” kata Rizal saat ditemui di Kantor Kemenko Bidang Pangan, Senin (12/1/2026).
Rizal menjelaskan, kebijakan satu harga diambil sebagai respons atas tingginya harga beras di sejumlah daerah Indonesia bagian timur yang bahkan telah melampaui Rp16.000 per kilogram. Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin memastikan masyarakat di seluruh wilayah bisa memperoleh beras dengan harga yang sama, yakni Rp12.500 per kilogram.

Ia juga menegaskan bahwa penetapan harga tersebut telah memperhitungkan margin fee sebesar 7 persen. Hingga kini, kebijakan beras satu harga baru akan dijalankan setelah skema margin tersebut benar-benar diterapkan oleh Bulog.
“Untuk itu [penerapan beras satu harga] nanti kita akan rapat dulu dengan beliau-beliau, tapi pada dasarnya Bapak Presiden setuju, Bapak Menko setuju, Bapak Menteri Pertanian setuju konsep tersebut. Tinggal mengarah nunggu marginnya kan belum turun nih, duitnya kan untuk subsidi silangnya kan belum bisa, kan nunggu anggarannya dulu,” jelas Rizal.
Lebih lanjut, Rizal menyebut margin fee 7 persen telah diputuskan bersama oleh Menteri Keuangan, Menteri Koordinator Bidang Pangan, serta Menteri Pertanian, meski sebelumnya Bulog sempat mengajukan usulan margin 10 persen.
“7% juga menurut kami sudah cukup mewadahi lah daripada dengan margin yang dari 2014 itu hanya Rp50, nah itu sangat jauh sekali dibandingkan dengan kebutuhan operasional Bulog yang cukup tinggi dihadapkan dengan penyaluran Bulog ini kan dari Sabang sampai Merauke,” jelas Rizal.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan kebijakan beras satu harga akan mulai diterapkan pada tahun ini. Menurutnya, Bulog akan diberi peran strategis dalam mendistribusikan beras agar tercipta satu harga nasional, serupa dengan pola distribusi BBM oleh Pertamina.
“Oleh karena itu, kami memberikan ruang untuk Bulog dalam mengambil keuntungan. Kami akan berikan Bulog meningkatkan keuntungan yang diambil untuk menjamin harga beras satu harga di seluruh Indonesia,” kata Zulhas di kantornya, Senin (12/1/2026).
Zulkifli Hasan juga menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak menyamaratakan kualitas beras, melainkan menghapus sistem zonasi dalam penetapan harga eceran tertinggi. Selama ini, beras di pasaran terbagi menjadi beras medium dengan persentase beras pecah hingga 25 persen dan beras premium dengan maksimal 15 persen.
Sebelumnya, HET beras dibedakan dalam tiga zona wilayah. Zona 1 mencakup Lampung, Sumatera Selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi. Zona 2 meliputi wilayah Sumatera selain Lampung dan Sumsel, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan. Adapun Zona 3 mencakup Maluku dan Papua.
Berdasarkan Panel Harga Badan Pangan Nasional pada pukul 14.50, harga rata-rata nasional beras medium tercatat sebesar Rp13.761 per kilogram. Sementara itu, harga rata-rata nasional beras SPHP berada di angka Rp12.473 per kilogram, dengan perbedaan HET sebelumnya menyesuaikan zona masing-masing wilayah.








Tinggalkan Balasan