
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa (Foto: Ist)
Jakarta, Kakinews.id – Kementerian Keuangan melaporkan realisasi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Desember 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melonjak signifikan dibandingkan defisit APBN 2024 yang tercatat Rp509,1 triliun atau 2,3 persen terhadap PDB.
Di luar periode pandemi Covid-19, realisasi tersebut menjadi defisit APBN tertinggi sejak 2005. Tekanan fiskal juga tercermin dari keseimbangan primer APBN yang mencatat defisit Rp180,7 triliun, atau membengkak hingga 285 persen dari target awal yang dipatok defisit Rp109,9 triliun. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, defisit keseimbangan primer hanya Rp2,3 triliun.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, di tengah kondisi global dan domestik yang penuh volatilitas sepanjang 2025, APBN tetap difungsikan sebagai instrumen kebijakan yang antisipatif dan responsif.
“APBN mampu menjaga capaian program prioritas serta tata kelola fiskal, sehingga pada akhir tahun defisit tetap dapat dikendalikan di level 2,92 persen terhadap PDB,” ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBN Kinerja dan Fakta 2025, Kamis (8/1/2025).

Defisit APBN terjadi akibat realisasi penerimaan negara yang lebih rendah dibandingkan belanja negara. Berdasarkan data Kementerian Keuangan, penerimaan negara sepanjang 2025 hanya mencapai Rp2.756 triliun atau 91,7 persen dari target Rp2.865 triliun. Capaian ini juga lebih rendah dibandingkan realisasi pendapatan negara pada 2024 yang sebesar Rp2.850 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara sepanjang 2025 tercatat Rp3.451 triliun atau 95,3 persen dari target Rp3.527 triliun. Meski belum mencapai target penuh, angka tersebut tetap meningkat dibandingkan belanja negara tahun 2024 yang sebesar Rp3.359 triliun.
Dengan kondisi tersebut, pembiayaan anggaran negara pada 2025 tercatat mencapai Rp744 triliun atau 120 persen dari target yang ditetapkan sebesar Rp662 triliun. Angka ini juga jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi pembiayaan utang pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp554,8 triliun.








Tinggalkan Balasan