Jakarta, Kakinews – Harga emas global kembali terpukul dan kini menyentuh titik terendah dalam lebih dari sebulan terakhir. Koreksi tajam ini memunculkan pertanyaan krusial bagi investor: saatnya masuk atau justru menjauh?

Pada perdagangan Senin (4/5/2026), harga emas spot ditutup di level US$ 4.521,5 per troy ons. Angka ini merosot 1,97% dibanding hari sebelumnya—menjadi level terendah sejak akhir Maret.

Penurunan ini juga menandai tren negatif dua hari berturut-turut, dengan total pelemahan mencapai 2,19%.

Tekanan terhadap emas datang dari meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Meski sempat memasuki fase gencatan senjata, konflik antara Amerika Serikat dan Iran belum benar-benar mereda.

Militer AS dilaporkan masih terlibat dalam pengamanan jalur vital di Selat Hormuz, termasuk menghadapi serangan saat mengawal kapal berbendera AS. Sementara itu, Uni Emirat Arab mengklaim berhasil menggagalkan serangan rudal dan drone yang diduga berasal dari Iran.

Situasi ini memicu lonjakan harga energi. Minyak mentah Brent bahkan melesat 5,8% ke US$ 114,44 per barel—level tertinggi sejak 2022.

Menurut analis TD Securities, Bart Melek, eskalasi konflik berpotensi memicu efek domino terhadap inflasi global.

“Konflik ini bisa mendorong kenaikan harga pangan dan energi sekaligus. Jika tekanan inflasi berlanjut, maka langkah logis bagi Federal Reserve adalah menaikkan suku bunga,” ujarnya.

Di sinilah emas kehilangan daya tariknya. Sebagai aset tanpa imbal hasil (non-yielding), emas cenderung ditinggalkan investor saat suku bunga naik karena instrumen lain menjadi lebih menarik.

Analisis Teknikal: Masih Bearish, Tapi Ada Peluang Pantulan

Secara teknikal, emas masih berada dalam tekanan. Indikator RSI (14 hari) berada di level 39—menunjukkan tren bearish masih dominan.

Namun, sinyal menarik datang dari Stochastic RSI yang sudah menyentuh angka 16, menandakan kondisi jenuh jual (oversold). Artinya, peluang rebound jangka pendek mulai terbuka.

Untuk perdagangan hari ini (Selasa, 5/5/2026):

Resistance terdekat: US$ 4.592 (MA5)

Pivot point: US$ 4.621

Potensi kenaikan: US$ 4.632 – 4.657

Sementara jika tekanan berlanjut, level support terendah diperkirakan berada di US$ 4.314 per troy ons.

Kesimpulan: Jangan Tergesa, Ini Fase Sensitif

Kondisi saat ini adalah fase krusial. Harga memang sedang murah, tetapi risiko global—terutama dari konflik dan kebijakan suku bunga—masih sangat tinggi.

Investor jangka pendek bisa memanfaatkan peluang rebound teknikal. Namun untuk jangka panjang, kehati-hatian tetap jadi kunci.

Emas sedang murah, tapi bukan berarti tanpa risiko.