
Penampakan layar indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (23/62025).
Jakarta, Kakinews.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (5/1/2026) dengan lonjakan solid 1,27% ke level 8.859,19. Capaian ini bukan sekadar penutupan hijau, melainkan rekor tertinggi sepanjang sejarah atau all time high (ATH), menegaskan kepercayaan pasar yang kian menguat di awal tahun.
Sepanjang sesi, IHSG konsisten bertahan di zona positif. Pergerakan intraday berada di rentang 8.732,31 hingga menyentuh puncak 8.859,19—level tertinggi harian sekaligus rekor intraday terbaik. Aktivitas transaksi terbilang ramai dengan nilai jual-beli mencapai Rp30,32 triliun dari 70,26 miliar saham yang berpindah tangan dalam 4,01 juta kali transaksi. Di sisi lain, rupiah masih tertekan tipis 0,09% dan ditutup di Rp16.740 per dolar AS.
Dari sebaran saham, optimisme pasar tampak dominan. Sebanyak 446 saham menguat, 246 saham melemah, dan 114 saham bergerak stagnan. Dorongan utama datang dari sektor barang baku, energi, dan transportasi yang masing-masing melesat 2,62%, 2,31%, dan 2,01%. Sektor konsumen non-primer ikut menguat 1,66%, disusul kesehatan yang naik 1,62%.
Kenaikan yang percaya diri ini ditopang lonjakan saham-saham berkapitalisasi besar. Berdasarkan data Bloomberg, kontributor terbesar terhadap penguatan indeks antara lain Bayan Resources (+17,61 poin), Bumi Resources Minerals (+14,24), Telkom Indonesia (+11,61), Bumi Resources (+11,46), Amman Mineral Internasional (+6,09), Bank Central Asia (+4,75), DCI Indonesia (+3,96), Merdeka Copper Gold (+3,95), Aneka Tambang (+3,40), serta Pacific Strategic Financial (+3,25).

Saham unggulan LQ45 juga tampil impresif. Medikaloka Hermina melonjak 6,16%, Vale Indonesia menguat 5,66%, Pertamina Geothermal Energy terbang 2,65%, dan Indofood Sukses Makmur naik 2,62%. Penguatan berlanjut pada Medco Energi Internasional (+2,42%), United Tractors (+2,33%), XLSmart (+1,87%), dan Indah Kiat Pulp and Paper (+1,71%).
Sentimen regional turut memberi angin segar. Bursa Asia mayoritas ditutup menguat, dengan lonjakan tajam di Kospi Korea Selatan (+3,43%) dan Nikkei 225 Jepang (+2,97%). Shenzhen Composite China naik 2%, SETI Thailand 1,56%, PSEI Filipina 0,48%, Strait Times Singapura 0,52%, sementara Hang Seng Hong Kong menguat tipis 0,03%.
Dari dalam negeri, pasar merespons data inflasi Desember 2025 yang tercatat 2,92% secara tahunan dan 0,64% secara bulanan, membawa Indeks Harga Konsumen ke 109,92. Tekanan inflasi terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 4,58% yoy dan andil 1,33%. Emas perhiasan menjadi komoditas dengan kontribusi inflasi terbesar, yakni 0,79% yoy. Riset MNC Sekuritas menilai inflasi bulanan yang melampaui ekspektasi mencerminkan peningkatan konsumsi akhir tahun seiring momentum Natal dan libur Tahun Baru.
Faktor fundamental lain adalah neraca perdagangan. Badan Pusat Statistik melaporkan surplus US$2,66 miliar pada November, menandai 67 bulan berturut-turut Indonesia mencatatkan surplus sejak Mei 2020. Phintraco Sekuritas menambahkan, sektor basic material mencatat kenaikan terbesar seiring reli harga logam, sementara gejolak geopolitik global tidak memberi tekanan berarti pada pasar saham domestik. Meski rupiah melemah, pergerakan indeks Asia yang solid membantu menjaga sentimen.
Dari sisi teknikal, indikator MACD membentuk golden cross, Stochastic RSI menguat di area pivot, dan volume beli meningkat. Dengan kombinasi katalis fundamental dan teknikal tersebut, IHSG dinilai masih berpeluang melanjutkan reli menuju area 8.900 dalam waktu dekat.








Tinggalkan Balasan