MARTAPURA – Sejak suaminya meninggal dunia sekitar 10 tahun lalu, Salmah menjalani kehidupan sederhana bersama anak perempuannya di RT 09, Desa Gudang Hirang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kamis (10/9/2026).

Di tengah keterbatasan ekonomi, perempuan tersebut kini harus menghadapi kekhawatiran yang datang hampir setiap hari. Rumah yang menjadi tempatnya berteduh bersama sang anak sudah dalam kondisi reot, miring, dan nyaris roboh.

Bagi Salmah, rumah tersebut bukan lagi sekadar tempat tinggal. Rumah itu menjadi satu-satunya tempat ia dan anaknya bertahan menjalani kehidupan.

Kondisi rumah yang semakin mengkhawatirkan membuat Salmah selalu dihantui rasa takut, terutama ketika berada di dalam rumah.

Terakhir kali rumah tersebut diperbaiki sekitar empat bulan lalu, tepatnya pada April 2026. Saat itu, warga sekitar bergotong royong secara swadaya membantu memasang sejumlah tongkat kayu galam untuk menahan bagian rumah yang mulai miring.

Namun, bantuan tersebut hanya mampu menjadi penyangga sementara. Kondisi rumah Salmah hingga kini masih jauh dari kata layak.

Tak hanya khawatir rumah roboh, Salmah juga harus menghadapi persoalan lain setiap musim banjir. Rumahnya menjadi langganan genangan air, bahkan ketinggian air di dalam rumah bisa mencapai hampir selutut.

Kondisi tersebut membuat Salmah akhirnya memberanikan diri mendatangi Kantor Desa Gudang Hirang. Ia berharap pemerintah desa dapat membantu mencarikan jalan keluar agar rumah yang ditempatinya bersama sang anak bisa segera diperbaiki atau dibedah.

Dengan suara penuh harap, Salmah mengaku tidak tahu lagi harus meminta bantuan kepada siapa.

“Saya mohon banar (sangat), semoga cepat diperbaiki rumah saya. Saya takut rumah itu rubuh. Saya tidak tahu harus ke mana minta bantuan,” ujar Salmah.

Terlebih, anak perempuannya saat ini baru saja menyelesaikan pendidikan di tingkat Madrasah Aliyah (MA). Di tengah kondisi rumah yang memprihatinkan, Salmah tetap berusaha bertahan dan berharap masih ada perhatian dari pemerintah maupun pihak lain yang peduli.

“Saya cuma ingin rumah ini aman untuk kami tinggali,” harapnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Pembakal Desa Gudang Hirang, Rislani Faisal, yang baru saja dilantik, mengatakan pihaknya akan berupaya mencarikan solusi untuk membantu perbaikan rumah Salmah.

Menurutnya, kondisi rumah tersebut akan menjadi perhatian pemerintah desa untuk dicarikan jalan keluar sesuai dengan kemampuan dan mekanisme bantuan yang tersedia.

“Kami akan berupaya mencarikan solusi untuk perbaikan rumah Ibu Salmah. Mudah-mudahan ada jalan agar rumah beliau bisa segera diperbaiki,” kata Rislani.

Kini, Salmah hanya bisa berharap. Di rumah yang setiap hari membuatnya waswas itu, ia tetap bertahan bersama anak perempuannya.

Sementara tongkat-tongkat kayu galam yang dipasang warga menjadi penyangga rumah, sekaligus seolah menjadi penyangga harapan Salmah agar tempat tinggalnya tidak benar-benar roboh sebelum bantuan datang.