Jakarta, Kakinews – Penyidikan dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Badan Gizi Nasional (BGN) berpotensi memasuki fase yang lebih mengguncang.

Mantan Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya, yang kini berstatus tersangka, memilih menjadi Justice Collaborator (JC) dan mulai membuka tabir dugaan keterlibatan pihak-pihak lain dalam perkara yang menyeret sejumlah mantan petinggi lembaga tersebut.

Langkah Sony dinilai dapat menjadi pintu masuk bagi penyidik untuk membongkar jaringan yang lebih luas di balik dugaan penyimpangan program strategis nasional bernilai triliunan rupiah itu. Jika keterangan yang disampaikannya terbukti, penyidikan berpotensi tidak berhenti pada tiga tersangka yang telah diumumkan.

Melalui kuasa hukumnya, Sony disebut telah menyerahkan lebih dari 20 nama kepada penyidik. Jumlah itu bahkan diklaim baru sebagian kecil dari pihak-pihak yang diduga mengetahui maupun terlibat dalam berbagai proses yang kini sedang diusut Kejaksaan Agung.

Kuasa hukum Sony, Krisna Murti, mengungkapkan bahwa permohonan Justice Collaborator telah diajukan secara resmi kepada penyidik Kejaksaan Agung. Menurutnya, kliennya memilih bekerja sama dengan aparat penegak hukum untuk mengungkap aktor-aktor yang memiliki peran lebih besar dalam dugaan korupsi program unggulan pemerintah tersebut.

“Klien kami bekerja sama dengan penyidik untuk mengungkap peranan-peranan yang lebih besar dalam program presiden ini,” kata Krisna di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Senin (8/6/2026).

Krisna menegaskan pengajuan JC bukan upaya mencari keringanan atau menghindari jerat hukum. Sebaliknya, Sony disebut siap membuka seluruh informasi yang diketahuinya agar penyidik dapat menelusuri pihak-pihak yang selama ini belum tersentuh proses hukum.

Menurut dia, informasi yang dimiliki kliennya menunjukkan dugaan penyimpangan MBG tidak mungkin hanya dilakukan oleh segelintir orang. Karena itu, Sony menolak jika seluruh beban perkara diarahkan hanya kepada dirinya.

“Lebih dari 20 nama sudah disebutkan. Namun menurut klien kami, itu baru sebagian,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa penyidikan kasus MBG berpotensi melebar ke berbagai pihak. Sebab, proses pembentukan hingga operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) disebut melibatkan banyak aktor dan rantai pengambilan keputusan yang panjang.

Tak hanya mengajukan JC ke Kejaksaan Agung, Sony juga telah mengajukan permohonan perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Langkah ini memperkuat indikasi bahwa keterangan yang akan dibukanya tidak hanya menyangkut dirinya sendiri, tetapi juga pihak lain yang diduga memiliki peran dalam perkara tersebut.

Di tengah penyidikan yang terus berkembang, kuasa hukum Sony turut menyinggung sejumlah proyek pengadaan yang kini menjadi sorotan penyidik. Mulai dari pengadaan kendaraan roda dua, perangkat teknologi informasi, tablet, hingga kaos kaki yang disebut berkaitan dengan program MBG.

Meski menegaskan kliennya tidak memiliki kewenangan dalam proses pengadaan tersebut, Krisna memastikan Sony siap membeberkan seluruh informasi yang diketahuinya kepada penyidik.

“Pengadaan motor, IT, tablet, kaos kaki dan sebagainya akan diungkap lebih jauh oleh klien kami. Yang pasti, klien kami tidak membidangi pengadaan-pengadaan itu,” katanya.

Kasus ini bermula dari dugaan penyimpangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis yang menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Penyidik Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus kemudian menetapkan tiga mantan petinggi BGN sebagai tersangka, yakni Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung.

Ketiganya diduga memanfaatkan pembangunan titik-titik SPPG melalui yayasan yang terafiliasi dengan mereka. Penetapan tersangka dilakukan setelah serangkaian pemeriksaan intensif pada 3 Juni 2026.

Kini, dengan status Sony sebagai Justice Collaborator dan pengakuannya mengenai puluhan nama yang telah diserahkan kepada penyidik, fokus perkara tak lagi semata tertuju pada tiga tersangka. Bola panas penyidikan mulai mengarah pada pertanyaan yang lebih besar: siapa saja pihak yang selama ini berada di belakang layar, menikmati keuntungan, atau ikut mengendalikan proyek MBG?

Jika keterangan Sony mampu dibuktikan, bukan tidak mungkin kasus ini berkembang menjadi skandal korupsi yang jauh lebih besar dari yang selama ini terungkap ke publik.