
Jakarta, Kakinews – Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal menilai pelemahan rupiah saat ini tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Bank Indonesia maupun Gubernur BI Perry Warjiyo semata.
Menurutnya, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang saling berkaitan.
Faisal menjelaskan, menjaga stabilitas kurs memang menjadi mandat BI. Namun, naik turunnya nilai tukar rupiah juga sangat dipengaruhi kondisi ekonomi nasional, stabilitas makroekonomi, kebijakan fiskal pemerintah, hingga tingkat kepercayaan pasar terhadap tata kelola pemerintahan.
“Tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi domestik yang perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Faisal, Selasa (19/5/2026).
Ia menyoroti meningkatnya tensi geopolitik global yang saat ini turut menekan mata uang negara-negara berkembang. Meski demikian, Faisal menilai pelemahan rupiah relatif lebih dalam dibanding sejumlah negara emerging markets lainnya.

Menurutnya, mata uang Thailand, Filipina, dan Korea Selatan memang mengalami tekanan, tetapi depresiasinya tidak sedalam rupiah. Sementara itu, ringgit Malaysia justru cenderung menunjukkan penguatan di tengah gejolak global.
Kondisi tersebut, kata Faisal, menjadi indikasi kuat bahwa persoalan domestik ikut memperbesar tekanan terhadap rupiah. Karena itu, pemerintah dan DPR diminta tidak semata-mata melihat persoalan kurs sebagai tanggung jawab BI.
“Kalau hanya melihat stabilitas kurs sebagai tugas BI, maka akan sangat mudah menyalahkan Bank Indonesia atau menganggap pergantian gubernur BI bisa langsung menyelesaikan masalah,” katanya.
Faisal menilai langkah yang lebih penting saat ini adalah membenahi akar persoalan ekonomi dan memperkuat kepercayaan pasar, bukan sekadar melontarkan narasi politik yang menyudutkan satu pihak.
Menurutnya, kondisi pasar tidak akan membaik apabila pemerintah dan otoritas moneter terus saling menyalahkan. Yang dibutuhkan justru penguatan sinergi antara pemerintah dan BI dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi BI agar tetap dipercaya pasar dan pelaku usaha.
“Jangan sampai BI sebagai lembaga independen dianggap tunduk pada intervensi politik pemerintah, karena itu bisa dibaca negatif oleh pelaku usaha dan menggerus kepercayaan pasar,” ujarnya.
Faisal menegaskan tekanan terhadap rupiah merupakan persoalan bersama yang harus diselesaikan secara kolektif. Karena itu, pemerintah dan BI diminta memperkuat koordinasi serta memulihkan kepercayaan investor dan pelaku usaha terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.








Tinggalkan Balasan