Kakinews.id, Jakarta-Sejarah mencatat wilayah Flores dan kawasan Nusa Tenggara beberapa kali dilanda gempa kuat yang memicu tsunami. Kondisi tersebut menunjukkan ancaman gempa dan tsunami di kawasan Sesar Naik Flores masih perlu diwaspadai.
Ahli kegempaan dan anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan sejumlah gempa kuat di wilayah Bali hingga Nusa Tenggara memiliki keterkaitan dengan aktivitas Sesar Naik Flores.
“Catatan gempa kuat dan tsunami masa lalu di atas menjadi bukti akan aktifnya Sesar Naik Flores,” kata Daryono dalam keterangannya, seperti dikutip Minggu (23/8/2026).
Berdasarkan catatan sejarah, gempa besar pernah terjadi di Flores pada 29 Desember 1820 dengan magnitudo sekitar 7,9 dan menimbulkan tsunami. Peristiwa serupa terjadi pada 12 Desember 1992, ketika gempa magnitudo 7,8 di Flores memicu tsunami dan menyebabkan sekitar 2.500 orang meninggal dunia.
Data sejarah juga mencatat sejumlah gempa kuat di Bali, Lombok, Bima, Alor hingga Sumbawa. Sebagian di antaranya disertai tsunami dan menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan.
Daryono mengatakan ancaman tersebut bersifat permanen karena Sesar Naik Flores masih menjadi salah satu sumber gempa aktif di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara.
“Ke depan, potensi gempa di kawasan utara Bali hingga Nusa Tenggara yang bersumber dari Sesar Naik Flores tetap ada dan patut diwaspadai karena ini adalah ancaman gempa dan tsunami yang permanen,” ujarnya.
Menurut Daryono, kondisi tersebut menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana, terutama dengan memastikan bangunan memiliki konstruksi yang aman dan tahan gempa.
“Melihat banyaknya bangunan rumah yang rusak, penting ada upaya nyata dan serius dalam merealisasikan bangunan tahan dan aman gempa. Jika tidak, setiap terjadi gempa kuat, masyarakat akan terus menjadi korban,” kata Daryono.
Catatan tersebut menjadi pembelajaran bagi masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi gempa dan tsunami, khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir utara Bali dan Nusa Tenggara.