JAKARTA, KAKINEWS.ID – Harga emas dunia bergerak terbatas pada perdagangan Senin (5/10/2026). Tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) membuat ruang penguatan emas masih terbatas, meski data ketenagakerjaan AS yang melemah kembali meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve.

Mengacu pada perdagangan pasar spot, harga emas ditutup di US$4.134,3 per troy ons. Posisi tersebut turun 0,14% dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya.

Pergerakan emas tertahan oleh dua sentimen yang berlawanan.

Dari sisi positif, data ketenagakerjaan AS menunjukkan pelemahan. Ekonomi AS hanya menciptakan 29.000 lapangan kerja non-pertanian (non-farm payroll) pada September, jauh di bawah konsensus pasar sebesar 90.000. Angka tersebut juga merosot tajam dibandingkan capaian Agustus yang mencapai 133.000.

Pelemahan pasar tenaga kerja tersebut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober kembali menyusut.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi 4%-4,25% pada rapat Oktober berada di 22,7%. Angka tersebut anjlok dibandingkan sepekan sebelumnya yang masih mencapai 70,9%.

Kondisi tersebut seharusnya menjadi katalis positif bagi emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas cenderung lebih menarik ketika ekspektasi kenaikan suku bunga melemah.

Namun, tekanan datang dari pasar obligasi AS.

Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 5,304%. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Maret 2022 atau dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Kenaikan yield membuat aset berbasis imbal hasil menjadi lebih menarik dibandingkan emas. Kondisi inilah yang membuat pergerakan harga emas belum mampu keluar dari tekanan.

Secara teknikal, tekanan bearish juga masih terlihat.

Pada grafik harian, Relative Strength Index (RSI) 14 hari berada di level 38. Posisi RSI di bawah 50 menunjukkan momentum harga masih berada dalam zona bearish.

Sementara itu, Stochastic RSI 14 hari berada di level 22. Indikator tersebut menunjukkan tekanan jual yang masih kuat dan harga mulai mendekati area jenuh jual (oversold).

Untuk perdagangan Selasa (6/10/2026), harga emas berpeluang mencoba rebound dengan mencermati pivot point di US$4.141 per troy ons.

Jika mampu menembus level tersebut, harga emas berpotensi menguji resistance US$4.151 per troy ons yang berada di sekitar Moving Average (MA) 5.

Apabila resistance tersebut berhasil dilewati, target berikutnya berada di sekitar MA-10 pada US$4.190 per troy ons.

Sebaliknya, jika tekanan jual kembali meningkat, level US$4.126 per troy ons menjadi support terdekat yang perlu diperhatikan.

Jika support tersebut ditembus, harga emas berisiko melanjutkan penurunan menuju US$4.119 per troy ons.

Dengan demikian, pergerakan emas hari ini masih akan ditentukan oleh kemampuan harga bertahan di atas support sekaligus menembus level resistance terdekat.