
KAKINEWS.ID, Jakarta-Bekerja pada shift malam selama kehamilan dikaitkan dengan peningkatan risiko kelainan perkembangan saraf pada anak yang terdeteksi melalui skrining hingga usia empat tahun. Temuan ini berasal dari penelitian yang dipublikasikan secara daring dalam jurnal Occupational & Environmental Medicine.
Penelitian tersebut menyoroti kemungkinan hubungan antara pola kerja malam selama kehamilan dan perkembangan saraf anak. Temuan ini menjadi perhatian karena perkembangan saraf pada masa awal kehidupan berperan penting dalam kemampuan belajar, komunikasi, perilaku, dan interaksi sosial anak.
Berdasarkan data Japan Environment and Children’s Study (JECS), peneliti menganalisis data 31.528 ibu yang bekerja pada trimester pertama kehamilan dan melengkapi kuesioner perkembangan anak ketika berusia empat tahun. Hasilnya, 4.189 anak atau sedikit lebih dari 13 persen masuk kategori berisiko tinggi mengalami kelainan pada setidaknya satu dari lima aspek perkembangan yang dinilai.
Kelima aspek tersebut meliputi kemampuan komunikasi, motorik kasar, motorik halus, pemecahan masalah, serta kemampuan personal dan sosial.
Anak yang ibunya tetap bekerja shift malam selama kehamilan menunjukkan peningkatan risiko pada tiga aspek dibandingkan anak dari ibu yang tidak bekerja shift malam. Risiko pada kemampuan komunikasi meningkat 29 persen, motorik halus 34 persen, dan fungsi personal-sosial 31 persen.

Peneliti juga menemukan bahwa durasi tidur selama kehamilan berkaitan dengan hasil perkembangan anak. Dalam analisis eksploratif, ibu yang tidur 10 jam atau lebih per malam memiliki risiko 80 persen lebih tinggi mengalami hasil skrining abnormal pada setidaknya satu aspek dibandingkan ibu yang tidur enam hingga sembilan jam. Namun, durasi tidur yang panjang dapat mencerminkan kondisi lain, seperti kelelahan, depresi subklinis, peradangan, atau anemia, dan tidak serta-merta menjadi penyebab gangguan perkembangan.
Peneliti menegaskan bahwa studi observasional ini tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat. Sejumlah faktor, termasuk pola rotasi shift, beban kerja, paparan cahaya, dan waktu penghentian shift malam, juga belum dapat diperhitungkan sepenuhnya.
Meski demikian, temuan tersebut menunjukkan pentingnya mempertimbangkan pengaturan jadwal kerja yang lebih fleksibel bagi pekerja hamil yang menjalani shift malam.
Penelitian ini dipublikasikan secara daring pada 27 Oktober 2026 dalam jurnal Occupational & Environmental Medicine, dengan DOI 10.1136/oemed-2026-111018.







