Oleh Teguh Anantawikrama*

JAKARTA, KAKINEWS.ID – Paparan Prof. Bambang Brodjonegoro dalam KADIN Indonesia Geoeconomics Policy Dialogue, 26 Oktober 2026, memberikan landasan penting untuk memikirkan masa depan ekonomi Indonesia.

Saya menyambut baik penekanannya pada kemampuan perusahaan, kedisiplinan kebijakan, dan kemitraan pembiayaan sebagai penopang perjalanan menuju negara berpendapatan tinggi.

Gagasan ini membuka ruang untuk melihat peluang Indonesia secara lebih luas: bagaimana kemampuan ekonomi di dalam negeri dapat tumbuh bersama posisi Indonesia dalam Global South.

Saya percaya Indonesia memiliki kesempatan untuk menjadi semakin kuat melalui hubungan yang saling menguntungkan dengan negara-negara berkembang.

Kekuatan itu harus kita bangun melalui kerja sama yang menghasilkan kemampuan produksi, membuka pasar, dan memperluas kesempatan bagi masyarakat.

Posisi internasional akan memiliki makna yang semakin besar ketika manfaatnya hadir dalam bentuk perusahaan yang lebih produktif, pemasok lokal yang semakin kompetitif, serta pekerjaan yang memberikan penghasilan lebih baik.

Global South perlu kita pahami sebagai ruang kemitraan yang beragam. Negara-negara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan kawasan lainnya memiliki kebutuhan, kemampuan, serta kepentingan yang berbeda.

Justru keberagaman tersebut menyediakan banyak peluang untuk saling melengkapi. Indonesia dapat menawarkan kerja sama yang berangkat dari kebutuhan nyata masing-masing mitra, sekaligus memperkuat kapasitas nasional.

Pendekatan ini memungkinkan hubungan diplomatik berkembang menjadi hubungan ekonomi yang bertahan lama.

Pelajaran yang saya tangkap dari paparan Prof. Bambang adalah bahwa kemampuan industri dibangun melalui proses pembelajaran yang konsisten.

Pengalaman perusahaan Jepang dan Korea memperlihatkan pentingnya investasi yang disertai penguasaan teknologi, peningkatan mutu, dan pengembangan jaringan pemasok.

Perusahaan menjadi semakin kuat karena mampu belajar dari mitra, memenuhi tuntutan pembeli, dan memperbaiki produknya secara berkelanjutan.

Indonesia dapat menerapkan prinsip tersebut sesuai dengan kebutuhan dan karakter ekonominya sendiri.

Dalam konteks Global South, proses pembelajaran itu dapat berjalan dua arah. Indonesia dapat menyerap teknologi dan pengetahuan dari berbagai mitra, sekaligus mengembangkan solusi bersama negara-negara yang menghadapi tantangan pembangunan serupa.

Pengolahan pangan, layanan kesehatan, energi, logistik antarpulau, dan pelayanan publik digital merupakan contoh bidang yang layak dijajaki.

Kerja sama akan lebih bernilai apabila mencakup pelatihan tenaga ahli, pengembangan pemasok, serta kemampuan pemeliharaan dan rekayasa di negara-negara yang terlibat.

Saya melihat peluang Indonesia untuk tumbuh sebagai mitra yang mampu menghubungkan kebutuhan pembangunan dengan kemampuan usaha.

Untuk mewujudkannya, kita perlu memahami persoalan mitra secara mendalam. Produk harus sesuai dengan daya beli dan kondisi setempat. Teknologi harus dapat dioperasikan serta dipelihara.

Pembiayaan harus mempertimbangkan kemampuan proyek menghasilkan pendapatan. Kepercayaan akan tumbuh apabila kerja sama memberikan hasil yang dapat dirasakan oleh kedua belah pihak.

Di dalam negeri, keterlibatan UMKM menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Kita perlu memastikan bahwa hubungan ekonomi internasional membuka jalan bagi usaha kecil untuk masuk ke rantai pasok yang lebih besar. Jalannya harus konkret: ada kebutuhan pembeli yang jelas, standar yang dapat dipelajari, pendampingan produksi, akses modal kerja, dan pembayaran yang dapat diandalkan.

Dengan dukungan seperti itu, UMKM memiliki kesempatan untuk membangun kemampuan melalui kontrak dan pengalaman produksi yang berulang.

Di sinilah KADIN dapat mengambil peran yang semakin bermakna. KADIN dapat mempertemukan perusahaan pembeli dengan calon pemasok, membantu mengidentifikasi kesenjangan kemampuan, dan menghubungkan kebutuhan tersebut dengan lembaga pelatihan maupun pembiayaan.

Hubungan antarkamar dagang juga dapat diarahkan pada pengembangan proyek bersama yang memiliki permintaan nyata. Ukuran keberhasilannya perlu terlihat pada pemasok yang memenuhi kualifikasi, kontrak yang berlanjut, dan peningkatan produktivitas perusahaan.

Sebagai bagian dari dunia usaha yang menaruh perhatian pada teknologi dan transformasi digital, saya melihat digitalisasi sebagai penguat proses ini.

Pencatatan produksi yang baik membantu perusahaan menjaga mutu. Sistem ketertelusuran meningkatkan kepercayaan pembeli. Pengelolaan persediaan yang lebih akurat mengurangi pemborosan.

Kecerdasan buatan dapat dikembangkan untuk membantu pekerjaan tertentu, dengan pengujian manfaat, pengamanan data, dan tanggung jawab manusia yang jelas. Pilihan teknologi sebaiknya mengikuti persoalan usaha yang hendak diselesaikan.

Saya juga sependapat dengan pentingnya kedisiplinan dalam dukungan pembiayaan. Kemitraan antara pemerintah, lembaga pembiayaan, dan perusahaan perlu memiliki tujuan serta pembagian risiko yang terang. Setiap bentuk dukungan harus dihubungkan dengan peningkatan kemampuan yang dapat dinilai.

Ketika sebuah program berhasil, kita memiliki dasar untuk memperluasnya. Ketika hasilnya belum memadai, evaluasi harus membantu menentukan perbaikan atau penghentiannya.

Kedisiplinan seperti ini akan memperkuat kepercayaan terhadap agenda pembangunan.

Posisi Indonesia di Global South juga dapat memperluas pilihan kemitraan kita. Saya memandang hubungan tersebut sejalan dengan semangat politik luar negeri bebas aktif.

Indonesia dapat mempererat kerja sama antarnegara berkembang sambil terus membangun hubungan produktif dengan negara-negara maju.

Kemampuan bekerja dengan berbagai pihak memberikan ruang yang lebih luas untuk memperoleh pengetahuan, mengembangkan pasar, dan membangun proyek yang sesuai dengan kepentingan nasional.

Agar ruang tersebut menjadi sumber kekuatan, kita perlu membawa agenda yang jelas. Setiap kemitraan dapat dinilai dari kemampuan baru yang dibangun, keterlibatan perusahaan nasional, dan manfaatnya bagi masyarakat. Dengan pendekatan ini, diplomasi ekonomi memiliki hubungan langsung dengan transformasi industri.

Kehadiran Indonesia dalam forum internasional dapat ditindaklanjuti melalui pekerjaan yang terukur di kawasan industri, pusat pelatihan, laboratorium, dan tempat usaha.

Optimisme saya terhadap Indonesia berangkat dari keyakinan bahwa kita mampu mempertemukan kekuatan di dalam negeri dengan peluang di luar negeri.

Gagasan Prof. Bambang memberikan pijakan untuk memperkuat perusahaan dan menjaga mutu kebijakan. Kemitraan Global South dapat memperluas ruang penerapannya.

Keduanya dapat saling menguatkan apabila kita mengerjakannya dengan konsisten dan menjadikan peningkatan kemampuan sebagai tujuan bersama.

Indonesia yang kuat akan memiliki semakin banyak perusahaan yang mampu bersaing, semakin banyak pekerja yang menguasai keterampilan bernilai tinggi, dan semakin banyak mitra yang mempercayai kemampuan kita.

Saya ingin Indonesia tumbuh bersama negara-negara yang juga sedang memperjuangkan kemajuan bagi rakyatnya.

Melalui kerja sama yang adil dan menghasilkan manfaat nyata, posisi Indonesia di Global South dapat menjadi sumber kekuatan ekonomi yang bertahan lintas generasi.***

*Teguh Anantawikrama ialah penulis dan pebisnis

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi