
KAKINEWS.ID, BANJARMASIN – Persoalan genangan air yang berbulan-bulan terjadi di Gang Posko BPK, Kelurahan Pemurus Luar, Banjarmasin Timur, akhirnya mendapat tanggapan dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Banjarmasin.
Genangan yang bahkan ditumbuhi lumut tersebut diduga dipicu oleh terhambatnya aliran drainase akibat bangunan rumah toko (ruko) di sekitar lokasi.
Kepala Bidang Drainase PUPR Banjarmasin, Harwita Oktania, mengungkapkan pihaknya telah dua kali melakukan peninjauan lapangan dan menemukan adanya kendala serius pada aliran air.
“Bangunan ruko di depan permukiman warga sebagian menutup aliran air. Di sana juga terdapat tambahan bangunan pabrik es kristal yang diduga ikut menghambat saluran, sehingga air tidak dapat mengalir lancar,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Padahal, di ujung kawasan tersebut terdapat saluran primer Pramuka yang seharusnya menjadi jalur pembuangan air.

PUPR, lanjutnya, sebenarnya telah menyiapkan opsi teknis dengan menghubungkan drainase ke saluran di seberang atau depan Terminal Kilometer 6. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena status jalan berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
“Untuk pelaksanaan crossing, kami masih menunggu persetujuan dari pihak provinsi. Jika disetujui, kemungkinan akan dianggarkan melalui APBD Perubahan,” jelasnya.
Sementara itu, upaya yang dapat dilakukan saat ini masih terbatas pada pemeliharaan rutin, seperti pembersihan lingkungan agar aliran air tetap berjalan meski tidak optimal.
Di sisi lain, sorotan juga mengarah pada kepemilikan bangunan ruko yang berada tepat di depan kawasan terdampak. Bangunan tersebut diketahui milik pengusaha Dicky Gunawan alias Aseng.
Dampak genangan ini dirasakan langsung oleh puluhan warga yang telah lebih dari tujuh bulan hidup berdampingan dengan air tergenang. Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga berdampak pada kesehatan.
Salah seorang warga, Hafifah Rosyida, menyebut genangan air berwarna hijau, licin, dan berbau menyengat. Kondisi itu menyebabkan banyak warga, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, mengalami penyakit kulit seperti kutu air dan gatal-gatal.
“Banyak yang jatuh karena licin. Penyakit kulit juga sering kambuh,” ujarnya.
Warga mengaku telah berulang kali berupaya mencari solusi, termasuk meminta bantuan penyedotan ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) serta Perumda Pengelolaan Air Limbah Domestik (PALD). Namun, hasilnya hanya bersifat sementara.
“Air sempat disedot, tapi tidak lama kembali lagi. Bahkan saat PALD datang, alatnya sempat rusak,” keluhnya.
Keluhan juga telah disampaikan melalui media sosial Wakil Wali Kota Banjarmasin. Tim PUPR bersama pihak kecamatan sempat turun ke lokasi, namun belum ada tindak lanjut konkret.
“Mereka bilang drainase di sini kecil dan buntu, tapi setelah itu belum ada solusi lanjutan,” tambahnya.






Tinggalkan Balasan