
KAKINEWS.ID, Jakarta – Dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap anak-anak penyintas kanker menjadi salah satu fokus penelitian epidemiolog Judy Ou dari Huntsman Cancer Institute, University of Utah, Amerika Serikat. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi risiko paparan polusi udara terhadap anak-anak dengan kondisi kesehatan rentan sekaligus mencari langkah perlindungan yang tepat.
Ou juga memperluas penelitiannya terhadap anak-anak dengan penyakit kronis lainnya, termasuk diabetes dan penyakit jantung bawaan. Menurutnya, penelitian mengenai dampak polusi udara selama ini lebih banyak berfokus pada anak sehat dan penderita asma.
Padahal, anak-anak dengan riwayat kanker maupun penyakit kronis lainnya berpotensi menghadapi risiko kesehatan tersendiri ketika terpapar polusi udara, termasuk asap kebakaran hutan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan peningkatan paparan partikel halus atau fine particulate matter (PM2.5), bahkan dalam jangka pendek, berkaitan dengan meningkatnya risiko kunjungan ke unit gawat darurat dan rawat inap pada anak penyintas kanker.
Ou berharap hasil penelitiannya dapat memberikan informasi yang membantu tenaga kesehatan dan keluarga melindungi anak-anak dengan kondisi kesehatan rentan, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan.

Teliti Paparan Radon di Lingkungan Rumah
Selain polusi udara dan asap karhutla, Ou juga meneliti paparan radon, yakni gas radioaktif alami yang terbentuk dari peluruhan uranium di dalam tanah.
Gas radon tidak berwarna dan tidak berbau. Paparan dalam jangka panjang melalui pernapasan diketahui dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.
Di wilayah Utah, Amerika Serikat, sekitar sepertiga hingga setengah rumah dilaporkan memiliki kadar radon melebihi batas aman. Namun, survei kesehatan masyarakat menemukan sekitar 80 persen penduduk belum mengetahui atau bahkan belum pernah mendengar tentang bahaya radon.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, Ou mengembangkan proyek intervensi klinis berupa edukasi mengenai risiko radon bagi pasien kanker paru-paru dan keluarga mereka.
Melalui edukasi tersebut, masyarakat diharapkan memahami pentingnya pemeriksaan kadar radon di rumah serta melakukan langkah mitigasi apabila ditemukan paparan yang melebihi batas aman.
Epidemiolog Disebut sebagai Detektif Ilmiah
Judy Ou menggambarkan profesinya sebagai epidemiolog dengan istilah “the nerdiest kind of detective ever” atau detektif paling kutu buku.
Baginya, penelitian epidemiologi bukan sekadar mengumpulkan data dan menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mencari jawaban atas persoalan kesehatan yang dihadapi masyarakat.
Ou mengatakan, dirinya selalu mempertimbangkan bagaimana hasil penelitian dapat membantu keluarga dan masyarakat mengambil keputusan terkait kesehatan.
Ia berharap penelitian yang dilakukan dapat memberikan manfaat nyata, terutama bagi pasien kanker, penyintas kanker, dan kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan lingkungan.
“Saya suka menjalin pertemanan dan terlibat dalam kehidupan orang lain. Saya suka membantu komunitas saya,” ujar Ou, Sabtu (7/11/2026).
Penelitian Judy Ou tersebut menjadi bagian dari upaya memahami hubungan antara faktor lingkungan dan kesehatan, sekaligus memperkuat perlindungan bagi kelompok rentan terhadap risiko paparan polusi.









