
Jakarta, Kakinews – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (27/4/2026) di zona merah, tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto mengumumkan reshuffle kabinet. Pelemahan indeks ini langsung menjadi sorotan pasar karena terjadi di tengah tingginya perhatian investor terhadap arah kebijakan ekonomi pasca perombakan jajaran pemerintahan.
Berdasarkan data RTI, IHSG terkoreksi 22,96 poin atau 0,32 persen ke level 7.106,52. Meski penurunannya relatif terbatas, sinyal kehati-hatian pelaku pasar terlihat jelas seiring respons cepat investor terhadap dinamika politik nasional.
Menariknya, di balik pelemahan indeks utama, mayoritas saham justru bergerak menguat. Sebanyak 408 saham naik, 264 saham turun, dan 147 saham stagnan. Kondisi ini menunjukkan tekanan pada IHSG lebih banyak datang dari saham-saham berkapitalisasi besar yang memiliki bobot dominan terhadap indeks.
Aktivitas perdagangan sepanjang hari juga tergolong padat. Volume transaksi mencapai 33 miliar lembar saham dengan frekuensi 2,2 juta kali. Nilai transaksi menembus Rp16,5 triliun, sementara kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp12.715 triliun. Angka ini menandakan investor tetap aktif berburu peluang meski indeks sedang tertekan.
Di jajaran saham dengan pelemahan terdalam, PT Harapan Duta Pertiwi Tbk memimpin setelah anjlok 14,91 persen ke level Rp194. Posisi berikutnya ditempati PT Multitrend Indo Tbk yang turun 14,55 persen ke Rp282, serta PT Puri Sentul Permai Tbk yang merosot 14,47 persen ke Rp1.005.

Sebaliknya, saham-saham lapis menengah dan kecil justru tampil agresif di zona hijau. PT Jaya Agra Wattie Tbk melesat 34,64 persen ke Rp206, diikuti PT Sinergi Inti Plastindo Tbk yang naik 34,09 persen ke Rp118, serta PT Ifishdeco Tbk yang menguat 24,88 persen ke Rp2.560.
Untuk saham dengan nilai transaksi terbesar, PT Bank Central Asia Tbk memimpin dengan transaksi Rp1,6 triliun. Di belakangnya ada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebesar Rp1,1 triliun, dan PT Petrosea Tbk senilai Rp835 miliar. Dominasi saham perbankan dan energi menunjukkan investor masih berfokus pada emiten besar yang dinilai defensif di tengah sentimen politik.
Pelemahan IHSG usai reshuffle kabinet menjadi pengingat bahwa pasar modal sangat sensitif terhadap perubahan arah kekuasaan. Investor kini menanti apakah susunan baru kabinet mampu menghadirkan stabilitas dan kepercayaan, atau justru memicu gelombang konsolidasi lanjutan di bursa.








Tinggalkan Balasan