Jakarta, Kakinews  – Pekan ini menjadi periode krusial bagi pasar keuangan Asia. Sejumlah agenda ekonomi penting akan dirilis saat kawasan menghadapi kombinasi rumit antara inflasi yang meningkat dan pertumbuhan yang belum solid.

Situasi global ikut memperkeruh prospek. Mandeknya negosiasi Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak dunia naik tajam. Penutupan Selat Hormuz dinilai mengganggu pasokan global, memaksa pasar menghitung ulang proyeksi konsumsi energi dunia di tengah ancaman penurunan suplai signifikan.

Di tengah tekanan itu, negara-negara Asia bergerak cepat mencari sumber energi alternatif. India meningkatkan pembelian minyak Rusia sekaligus memperluas pasokan dari Afrika, Iran, dan Venezuela. Filipina juga memastikan akses energi tetap aman dengan mengamankan hampir 2,5 juta barel minyak Rusia hingga Maret 2026.

Indonesia turut mengambil langkah strategis dengan mempererat kerja sama energi bersama Rusia. Pemerintah disebut telah menyepakati impor 150 juta barel minyak mentah Rusia secara bertahap guna menjaga ketahanan pasokan domestik.

Selain isu energi, perhatian investor akan tertuju ke Jepang. Bank of Japan diperkirakan menahan suku bunga acuan di level 0,75%, meski inflasi Tokyo terus menunjukkan penguatan. Pasar menunggu sinyal baru dari bank sentral soal arah kebijakan berikutnya.

Dari China, data PMI April diproyeksikan menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi. Sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi, tetapi lemahnya permintaan domestik terus menjadi bayang-bayang pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu.

Sementara itu, Korea Selatan menegaskan fokus baru pada sektor kecerdasan buatan. Presiden Lee Jae Myung dijadwalkan bertemu CEO Google DeepMind Demis Hassabis di Seoul, menandai dorongan besar menuju ekonomi berbasis teknologi tinggi.

Di Asia Tenggara, isu jalur perdagangan Selat Malaka kembali mencuat setelah Selat Hormuz dijadikan alat tekanan geopolitik. Pemerintah Indonesia menegaskan tidak akan mengenakan tarif bagi kapal yang melintas, sejalan dengan sikap Singapura yang menuntut jalur pelayaran tetap bebas dan terbuka.

Di dalam negeri, pemerintah juga akan kembali menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) dengan target indikatif Rp36 triliun. Langkah ini dilakukan di tengah kenaikan utang jatuh tempo yang mencapai Rp833,96 triliun pada 2026.

Berikut agenda ekonomi utama pekan ini:

27 April 2026

China: Laba industri Maret

Thailand: Penjualan mobil

28 April 2026

Indonesia: Lelang SUN Rp36 triliun

Jepang: Keputusan suku bunga acuan

AS: Keyakinan konsumen

Zona Eropa: Produksi industri, retail, pengangguran, inflasi

29 April 2026

Thailand: Suku bunga acuan

Indonesia: Survei ekonomi Bloomberg April

30 April 2026

Korea Selatan: Produksi industri

Thailand: Ekspor-impor dan cadangan devisa

Jepang: Produksi industri dan penjualan ritel

China: PMI Manufaktur

Taiwan: PDB Kuartal I-2026

India: Produksi industri

1 Mei 2026

Indonesia: Libur Hari Buruh

Jepang: Inflasi April

Korea Selatan: Data ekspor April