KAKINEWS.ID, Jakarta: Ahli Iklim Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin, mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dan Papua pada 2027 seiring meningkatnya intensitas fenomena Super El Nino. Kedua wilayah tersebut menjadi perhatian karena memiliki konsentrasi titik panas (hotspot) yang kuat selama fenomena El Nino.

Erma menyebut, perkembangan pemantauan hingga November 2026 menunjukkan intensitas Super El Nino terus meningkat dan hampir menyentuh anomali suhu 3 derajat Celsius. Bahkan, fenomena tersebut diprediksi berpotensi melampaui 4 derajat Celsius.

“Update Super El Nino per November 2026: semakin meningkat hampir sentuh level 3°C, super El Nino bahkan diprediksi dapat melampaui 4°C,” kata Erma dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).

Menurut Erma, potensi peningkatan tersebut dinilai rasional karena pemanasan suhu tertinggi masih terkonsentrasi di wilayah Pasifik timur. Anomali suhu di kawasan tersebut bahkan telah melampaui 6 derajat Celsius.

Kondisi itu menunjukkan panas belum sepenuhnya terdistribusi dan ditransfer ke wilayah Pasifik barat.

Erma menjelaskan, prediksi Super El Nino tidak hanya didasarkan pada satu indikator, model, maupun metode pengamatan. Para ilmuwan juga mempelajari perilaku El Nino melalui berbagai penelitian yang dilakukan secara konsisten.

Ia menegaskan, bukti ilmiah menjadi dasar utama dalam menentukan kebenaran suatu prediksi.

“Tak ada konsensus dalam sains, yang ada adalah bukti. Siapa yang dapat menyampaikan bukti terkuat dan tervalid, maka otomatis itulah yang menjadi acuan kebenaran,” ujarnya.

Lebih lanjut, Erma memperkirakan peluang Indonesia mengalami musim kemarau pada 2027 dalam kondisi El Nino kuat cukup tinggi.

“Fix, tahun depan peluangnya tinggi kita akan mengalami musim kemarau dalam kondisi masih El Nino kuat,” kata Erma.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena El Nino kuat berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan karhutla, terutama di wilayah yang memiliki kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.

Karena itu, Erma mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi karhutla di Kalimantan dan Papua menjelang musim kemarau 2027.