
KAKINEWS.ID, Jakarta: Hujan yang mulai mengguyur sejumlah wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan dalam beberapa hari terakhir belum tentu mampu memadamkan seluruh titik api, terutama pada lahan gambut.
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono Daryono, mengatakan hujan memang membantu mempercepat pemadaman karhutla, khususnya kebakaran vegetasi di permukaan. Namun, kondisi berbeda terjadi pada lahan gambut yang memiliki potensi menyimpan bara api di bawah permukaan tanah.
“Hujan memang sangat membantu mempercepat pemadaman kebakaran hutan dan lahan, terutama kebakaran vegetasi di permukaan,” kata Daryono, Sabtu (7/11/2026).
Menurutnya, kebakaran pada lahan gambut kering umumnya mengalami proses pembakaran membara (smouldering combustion). Proses tersebut dapat berlangsung lama meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat.
Daryono menjelaskan, efektivitas hujan dalam memadamkan kebakaran gambut dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya intensitas dan durasi hujan, pemerataan curah hujan, kedalaman muka air tanah, serta tingkat kekeringan gambut.

Karena itu, hilangnya asap maupun titik panas setelah hujan tidak dapat langsung dijadikan bukti bahwa kebakaran telah padam sepenuhnya.
“Hujan adalah sekutu penting dalam pemadaman karhutla, tetapi bukan jaminan padamnya kebakaran gambut. Api di permukaan mungkin sudah hilang, sementara bara di bawah tanah masih hidup,” ujarnya.
Ia menegaskan, upaya pemadaman karhutla harus tetap dilanjutkan hingga tuntas. Selain itu, pemulihan tata air gambut juga diperlukan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang.
Daryono mengingatkan agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam penanganan karhutla, meskipun sejumlah wilayah mulai mendapatkan guyuran hujan.
Dengan demikian, hujan dapat membantu menekan kebakaran, tetapi pemantauan dan penanganan di lapangan tetap diperlukan untuk memastikan bara api di bawah permukaan gambut benar-benar padam.









