
Jakarta, Kakinews – Nama Budiman Damanik (BD), mantan Direktur Utama PT Cocoman periode 2012-2022, kembali menjadi sorotan.
Di tengah bergulirnya penyidikan dugaan pelanggaran tata kelola pertambangan di Kalimantan Barat yang menjerat pengusaha tambang Sudianto alias Aseng, nama BD disebut ikut muncul dalam penelusuran sejumlah pihak yang tengah dilakukan lembaga investigasi independen.
Kasus yang kini ditangani Kejaksaan Agung RI tersebut terus berkembang. Setelah menetapkan Sudianto alias Aseng sebagai tersangka dan melakukan penahanan, perhatian publik kini mulai mengarah pada sejumlah nama yang disebut memiliki keterkaitan dengan jaringan bisnis maupun aliran dana yang sedang ditelusuri.
Lembaga Investigasi Badan Advokasi Penyelamat Aset Negara Kalimantan Barat (LI BAPAN Kalbar) mengungkapkan bahwa nama Budiman Damanik muncul dalam proses pendalaman yang sedang mereka lakukan.
Ketua LI BAPAN Kalbar, Stevanus Febyan Babaro, mengatakan tim investigasi saat ini sedang menelusuri berbagai dokumen, afiliasi perusahaan, hingga dugaan aliran dana yang berpotensi berkaitan dengan perkara tersebut.

“Kami mendalami aliran dana, afiliasi perusahaan, serta kemungkinan tindak pidana pencucian uang (TPPU) yang diduga berkaitan dengan jaringan bisnis Sudianto alias Aseng,” ujar Stevanus.
Menurutnya, investigasi tidak hanya berfokus pada perkara yang sudah ditangani aparat penegak hukum, tetapi juga terhadap pihak-pihak yang diduga memiliki hubungan dengan aktivitas bisnis yang kini menjadi objek penyelidikan.
Meski demikian, Stevanus menegaskan pihaknya masih melakukan verifikasi terhadap seluruh informasi yang diperoleh. Ia menekankan bahwa penyebutan nama seseorang dalam proses investigasi tidak serta-merta menunjukkan adanya keterlibatan hukum.
“Kami juga berhati-hati. Apakah ada keterlibatan hukum yang bersangkutan atau tidak, itu masih kami dalami,” tegasnya.
Hingga kini, BD belum memberikan tanggapan resmi atas munculnya namanya dalam investigasi tersebut.
Namun sorotan terhadap BD bukan hanya datang dari Kalimantan Barat. Di Sulawesi Tengah, sosok yang pernah dikenal sebagai petinggi PT Cocoman itu juga memiliki catatan konflik panjang dengan perusahaan yang pernah dipimpinnya.
Beberapa waktu lalu, BD melaporkan PT Cocoman ke Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah terkait dugaan aktivitas pertambangan tanpa RKAB. Akan tetapi, laporan itu dibantah keras oleh manajemen perusahaan.
Manajemen PT Cocoman menyatakan saat itu perusahaan tidak sedang melakukan aktivitas produksi dan justru masih mengurus dokumen RKAB di wilayah Morowali Utara. Mereka menilai laporan yang diajukan BD tidak sesuai dengan kondisi faktual di lapangan.
Tak berhenti di situ, manajemen PT Cocoman justru membuka kembali sejumlah persoalan internal yang disebut melibatkan BD selama menjabat sebagai Direktur Utama.
Perusahaan mengungkapkan bahwa BD diberhentikan dari jabatannya pada 28 September 2022 dan digantikan oleh Mirdas Taurus Aika. Menurut manajemen, keputusan tersebut diambil setelah yang bersangkutan dinilai tidak lagi fokus mengelola perusahaan dan lebih banyak berkonsentrasi pada usaha pribadinya.
Dalam keterangannya, manajemen juga menyinggung dugaan penerbitan Surat Perintah Kerja (SPK) serta penerimaan uang muka sebesar Rp1 miliar ke rekening pribadi tanpa sepengetahuan perusahaan. Persoalan tersebut disebut menjadi bagian dari konflik yang hingga kini belum menemukan titik akhir.
Lebih jauh lagi, PT Cocoman mengaku telah melaporkan BD ke Polres Sukabumi sejak Agustus 2022 terkait dugaan penggunaan keterangan tidak benar atau akta palsu yang disebut merugikan perusahaan. Menurut manajemen, perkara tersebut telah berstatus tersangka dan masih dalam proses hukum menuju tahap persidangan.
Pihak perusahaan menilai langkah hukum yang dilakukan BD terhadap PT Cocoman merupakan bagian dari rangkaian konflik berkepanjangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Bahkan, laporan ke Kejati Sulawesi Tengah disebut sebagai laporan balasan kelima yang dilayangkan kepada perusahaan.
Manajemen PT Cocoman juga mengklaim telah berperan besar dalam membangun karier dan reputasi BD di sektor pertambangan sejak 2012. Dari posisi yang diberikan perusahaan, nama BD disebut mulai dikenal luas dalam bisnis pertambangan di Kepulauan Riau hingga Sulawesi Tengah.
Di tengah saling lapor dan berbagai tudingan yang muncul, manajemen berharap aparat penegak hukum tetap mengedepankan profesionalisme dan independensi dalam menangani setiap laporan yang masuk.
Sementara itu, munculnya nama Budiman Damanik dalam investigasi tambang Kalimantan Barat diperkirakan akan semakin menyita perhatian publik. Terlebih, penelusuran yang dilakukan tidak hanya menyangkut dugaan pelanggaran tata kelola pertambangan, tetapi juga kemungkinan keterkaitan aliran dana dan jaringan bisnis yang masih terus didalami.
Apakah kemunculan nama BD hanya sebatas informasi awal atau akan berkembang menjadi bagian penting dalam pengungkapan kasus, seluruhnya kini bergantung pada hasil investigasi dan proses hukum yang sedang berjalan.








Tinggalkan Balasan