
Jakarta, Kakinews – Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, kini jadi sorotan tajam publik usai blackout massal melumpuhkan sejumlah wilayah Sumatra. Di tengah jutaan pelanggan yang mengeluh listrik padam berjam-jam, perhatian publik justru tertuju pada harta kekayaan sang bos PLN yang tembus Rp110 miliar.
Pemadaman besar-besaran yang menghantam Sumatra bagian selatan, tengah hingga utara pada Jumat (22/5/2026) memicu gelombang kritik terhadap manajemen PLN. Masyarakat mempertanyakan ketahanan sistem kelistrikan nasional, sementara Darmawan Prasodjo tampil meminta maaf di hadapan publik.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi di masyarakat,” kata Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).
Namun permintaan maaf itu tak langsung meredam amarah publik. Nama Darmawan justru makin ramai dibicarakan setelah Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) miliknya diungkap. Berdasarkan laporan periodik yang disampaikan 3 Februari 2026, total kekayaan Darmawan mencapai Rp110.072.697.106.
Angka fantastis itu terdiri dari aset tanah dan bangunan senilai Rp45,7 miliar, surat berharga Rp20,5 miliar, hingga kas dan setara kas mencapai Rp42,9 miliar. Koleksi propertinya tersebar di Jakarta Selatan, Tangerang Selatan, Bantul, Klaten hingga Depok.

Tak hanya itu, garasi sang Dirut PLN juga diisi kendaraan bernilai miliaran rupiah, mulai dari Hyundai Ioniq hingga mobil premium Denza D9 keluaran 2025 senilai Rp900 juta.
Ironisnya, kekayaan jumbo itu mencuat justru saat jutaan warga Sumatra harus menghadapi lumpuhnya aktivitas akibat listrik padam. Sejumlah daerah dilaporkan mengalami gangguan layanan komunikasi, bisnis, hingga aktivitas rumah sakit dan industri.
PLN berdalih blackout dipicu gangguan cuaca pada jalur transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai di Jambi. Gangguan itu disebut memicu efek domino hingga sistem kelistrikan Sumatra kolaps.
“Gangguan pada ruas transmisi berdampak meluas pada sebagian sistem transmisi Sumatera, mengakibatkan penurunan frekuensi akibat beban berat pembangkit dan memicu efek domino gangguan di sejumlah wilayah,” ujar Darmawan.
Meski PLN mengklaim sistem gardu induk dan transmisi berhasil dipulihkan dalam waktu sekitar dua jam, proses normalisasi pembangkit terutama PLTU disebut membutuhkan waktu hingga 15-20 jam.
Blackout ini pun membuka pertanyaan besar mengenai kesiapan infrastruktur kelistrikan nasional di bawah kepemimpinan Darmawan Prasodjo. Di saat rakyat dipaksa gelap-gelapan, publik kini menyoroti apakah tata kelola dan investasi jumbo PLN benar-benar berbanding lurus dengan kualitas layanan yang diterima masyarakat.







Tinggalkan Balasan