KAKINEWS.ID, Jakarta – Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menegaskan pentingnya penerapan standar keselamatan penerbangan secara ketat dalam operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menggunakan helikopter atau water bombing.

Menurut Daryono, operasi pemadaman dari udara merupakan kegiatan penerbangan berisiko tinggi. Karena itu, setiap tahapan operasi harus memperhatikan aspek keselamatan, mulai dari kesiapan helikopter hingga kondisi di lokasi pengambilan air.

“Operasi water bombing memerlukan penerapan standar keselamatan penerbangan yang ketat, mulai dari pemeriksaan kelayakan teknis helikopter, kesiapan pilot dan kru, pemantauan kondisi cuaca, hingga penilaian risiko di lokasi operasi,” ujar Daryono dalam keterangannya, Minggu (8/11/2026).

Ia menjelaskan, tahap pengambilan air juga membutuhkan perhatian khusus karena helikopter harus beroperasi pada ketinggian rendah dengan perubahan beban yang perlu diperhitungkan secara cermat.

Oleh karena itu, koordinasi antarpersonel, komunikasi yang baik, penentuan lokasi pengambilan air yang aman, serta kesiapan prosedur darurat menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko kecelakaan selama operasi berlangsung.

“Prinsip utamanya adalah keselamatan personel harus selalu menjadi prioritas, sejalan dengan keberhasilan misi pemadaman kebakaran,” katanya.

Daryono menilai, kecelakaan dalam operasi pemadaman karhutla menjadi pengingat bahwa penggunaan helikopter untuk water bombing tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan menjatuhkan air, tetapi juga membutuhkan pengendalian risiko penerbangan secara menyeluruh.

Menurutnya, evaluasi keselamatan perlu mencakup kondisi teknis helikopter, prosedur pengambilan air, karakteristik perairan, berat muatan, kondisi meteorologi, hingga kesiapan kru dalam menghadapi keadaan darurat.

Evaluasi tersebut penting untuk memperkuat mitigasi risiko dan memastikan operasi pemadaman karhutla dari udara dapat berjalan efektif tanpa mengabaikan keselamatan personel.

Sebelumnya, Helikopter jenis Eurocopter EC225LP Super Puma yang digunakan untuk operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui metode water bombing dilaporkan jatuh di perairan Sungai Barito, Desa Tabatan, Kecamatan Kuripan, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan, Minggu (8/11/2026). Tiga orang kru penerbangan dipastikan selamat.

Helikopter dengan nomor registrasi VH-HGM tersebut mengalami kecelakaan saat menjalankan operasi pengeboman air. Berdasarkan rekaman video amatir, helikopter terlihat kehilangan kendali ketika bermanuver setelah mengambil air menggunakan bambi bucket di Sungai Barito.

Helikopter dengan nomor seri MSN 2878 itu diketahui merupakan armada milik swasta yang dikontrak Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendukung operasi pemadaman karhutla.

Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi telah menerima laporan pendahuluan mengenai insiden tersebut. Tim terkait saat ini masih bersiaga di lokasi, sementara laporan lengkap mengenai kronologi dan penyebab kecelakaan masih disusun untuk disampaikan kepada publik dan pihak berwenang.