KAKINEWS.ID,  JAKARTA–Konsumsi ikan sebelum kehamilan dikaitkan dengan kemungkinan lebih rendah mengalami gangguan hipertensi kehamilan yang muncul pada tahap awal. Temuan ini berasal dari penelitian berbasis kohort nasional di Jepang yang melibatkan lebih dari 86.000 perempuan.

Penelitian tersebut menunjukkan, perempuan dengan konsumsi ikan lebih tinggi sebelum hamil memiliki peluang lebih rendah mengalami early-onset hypertensive disorders of pregnancy atau gangguan hipertensi kehamilan yang terjadi lebih awal.

Menariknya, hubungan konsumsi ikan dengan hipertensi kehamilan berbeda ketika ikan dikonsumsi selama masa kehamilan. Pola tersebut terutama terlihat pada perempuan yang belum pernah melahirkan sebelumnya.

Para peneliti juga menganalisis asupan asam lemak tak jenuh ganda atau polyunsaturated fatty acids (PUFA), termasuk omega-3 dan omega-6. Namun, hubungan antara total asupan PUFA dan gangguan hipertensi kehamilan dinilai jauh lebih tidak konsisten.

Temuan itu mengindikasikan bahwa manfaat konsumsi ikan terhadap risiko hipertensi kehamilan kemungkinan tidak semata-mata dapat dijelaskan oleh jumlah total omega-3 dan omega-6 yang dikonsumsi.

“Hubungan antara konsumsi ikan dan gangguan hipertensi kehamilan mungkin tidak hanya dijelaskan oleh total asupan PUFA,” demikian inti temuan penelitian yang dikutip News-Medical, Kamis (10/9/2026).

Hasil penelitian tersebut memperkuat perhatian terhadap pola makan sebelum kehamilan sebagai salah satu faktor yang mungkin berkaitan dengan kesehatan ibu selama kehamilan.

Meski demikian, penelitian ini menunjukkan hubungan statistik dan belum dapat membuktikan bahwa konsumsi ikan secara langsung mencegah hipertensi kehamilan. Faktor lain dalam pola makan dan kondisi kesehatan perempuan juga dapat berperan.

Gangguan hipertensi kehamilan merupakan salah satu komplikasi penting selama kehamilan yang dapat berdampak terhadap kesehatan ibu dan janin.

Karena itu, para peneliti menilai hubungan antara pola konsumsi ikan sebelum dan selama kehamilan dengan gangguan hipertensi masih perlu dikaji lebih lanjut