KAKINEWS.ID, JAKARTA – Tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan populasi mangrove langka di kawasan Teluk Balikpapan, Kalimantan Timur. Keberadaan mangrove tersebut menghadapi ancaman alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, hingga tekanan pembangunan kawasan pesisir yang berpotensi mengganggu habitat satwa, termasuk bekantan.

Eksplorasi dilakukan di sepanjang kurang lebih 200 kilometer kawasan mangrove. Tim peneliti menemukan populasi mangrove langka di Pantai Lango dan Pulau Kowangan, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur.

Periset Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Istiana Prihatini, mengingatkan pentingnya menjaga habitat alami mangrove untuk mencegah meningkatnya risiko kepunahan lokal.

“Jika habitat rusak, risiko kepunahan lokal semakin besar,” ujar Istiana Prihatini.

Mangrove bukan sekadar vegetasi yang tumbuh di kawasan pesisir. Ekosistem ini berperan penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, melindungi garis pantai dari abrasi, menyerap karbon, serta menyediakan habitat bagi berbagai satwa, termasuk spesies endemik.

Kerusakan mangrove dapat mengurangi ruang hidup satwa dan mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir. Karena itu, keberadaan mangrove langka di Teluk Balikpapan memiliki nilai ekologis penting yang perlu dijaga melalui upaya perlindungan dan konservasi berkelanjutan.

Ancaman terhadap mangrove langka juga berasal dari aktivitas manusia. Alih fungsi lahan, pencemaran lingkungan, pembalakan liar, dan pembangunan kawasan pesisir dapat memperburuk kondisi habitat. Bahkan, kerusakan dalam skala kecil berpotensi meningkatkan risiko kepunahan lokal apabila mengganggu populasi yang terbatas.

BRIN Dorong Konservasi Mangrove Langka

Untuk menjaga kelestarian mangrove langka, tim peneliti merekomendasikan sejumlah langkah konservasi, meliputi perlindungan habitat alami, restorasi kawasan mangrove yang rusak, penyimpanan material genetik, serta konservasi ex-situ atau pelestarian spesies di luar habitat aslinya.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendukung keberlangsungan populasi mangrove langka sekaligus mempertahankan fungsi ekologis kawasan Teluk Balikpapan.

Pelestarian mangrove juga berkaitan erat dengan perlindungan habitat bekantan dan satwa lainnya yang bergantung pada ekosistem pesisir. Dengan menjaga mangrove, upaya konservasi tidak hanya menyelamatkan tumbuhan langka, tetapi juga melindungi keanekaragaman hayati dan keseimbangan lingkungan pesisir Indonesia.